BELAJAR IKHLAS


Ikhlas merupakan sifat yang sangat terpuji yang harus dimiliki oleh seluruh umat. Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa sabar dalam menghadapi kehidupan dan ikhlas dalam menjalankan apapun yang telah menjadi ketetapan_Nya. Makna ikhlas sangatlah luas dan berikut pengertian tentang ikhlas yang akan diuraikan secara lebih jelas.

Ikhlas adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan. Atau mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu memandang kepada Allah SWT. Seperti ayat Qur'an yang selalu kita baca ketika mengawali sholat.

Surat Al An'am ayat 79

إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Dalam tahap ini seseorang yang baru memulai belajar tentang ikhlas, sudah harus berhadapan dengan persoalan, bagaimana "cara menghadapkan wajah kita" kepada Allah SWT ? Karena ketika sesorang sudah bisa menghadapkan "wajah" kepada Zat yang Sebenarnya Yang Patut Disembah, maka orang tersebut barulah bisa dikatakan tidak termasuk orang yang mempersekutukan Allah.

Kalau belum bisa menghadapkan "wajah" dengan cara yang benar lantas bagaimana? Silakan anda tafsirkan sendiri, ke dalam golongan mana anda termasuk..?

*Materi tentang Cara menghadapkan "wajah kita" kepada Allah SWT akan dibahas dalam materi bimbingan khusus.

Kembali kepada masalah ikhlas, maka ketika kita melaksanakan ibadah, sudah barang tentu tingkat keikhlasan sesorang akan menentukan kualitas ibadah yang dikerjakan dan hasil dari ibadah tersebut.

Seperti halnya pada Surat Al Mu'min ayat 65 Allah SWT berfirman :

هُوَ ٱلْحَىُّ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَٱدْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan ikhlas. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Syech Ahmad Ibnu Atha'illah Al Askandari dalam Kitab Hikam, membagi Ikhlas kepada tiga tingkatan, yaitu :
  • Ikhlash Abidin

Abidin artinya ahli ibadah, jadi yang dimaksud Ikhlas Abidin artinya Ikhlasnya Ahli Ibadah.
Ikhlas Abidin yaitu beramal karena Allah dan mengharap pahala pahala yang dijanjikan dan menghindari siksaan Allah.

Iklash Abidin ini menisbahkan amal perbuatan kepada dirinya dan meyakini bahwa ibadah itulah yang menghasilkan manfaat berupa pahala dan syurga. Ikhlas semacam ini terlepas dari riya' baik yang nyata maupun tersembunyi.

  • Ikhlas Muhibbin

Muhibbin artinya pecinta, ikhlasnya orang cinta yaitu beramal murni karena Allah, semata-mata karena kecintaannya kepada Allah dan karena keesaan Allah bukan karena pahala atau menghindari dosa. Karena itulah rabiatul adawiyah berkata :“Tidaklah aku menyembah Engkau karena takut neraka dan tidak pula karena ingin syurga, maka aku nisbahkan ibadah itu kepada-Mu

  • Ikhlas Arifin 

Arifin artinya kenal atau akrab.

Ikhlasnya orang yang akrab dengan Allah yaitu: memandang hatinya kepada Allah yang menggerakkan dan yang mendiamkannya. Ikhlas semacam ini tidak lagi memandang bahwa amal, usaha, atau ibadahnya itu adalah perbuatannya tapi itu semua adalah kehendak dan daya upaya Allah semata, sesuai dengan maksud perkataan La haula wala quwata illa billah.

Sudah dimanakah tingkatan ikhlas anda ? Mari kita saling introspeksi diri dan mulai saat ini kita harus mencari tahu dengan mencari guru yang benar dapat mengajarkan dan membimbing kita dalam mencapai tingkat keikhlasan yang lebih baik dari yang sekarang.

Mengapa harus belajar ikhlas pada guru atau ulama yang benar-benar bisa menghantarkan kita ikhlas dalam setiap ibadah ? Karena ikhlas bukanlah sekedar teori, tetapi suatu perbuatan yang harus dapat dibuktikan.

Ada 3 syarat pokok yang harus dipenuhi dalam mencapai tingkatan-tingkatan Ikhlas yang sesungguhnya :

  1. Lillah, yaitu adanya niat dengan tulus ikhlas karena Allah SWT
  2. Billah, yaitu senantiasa bersama Allah SWT dimanapun berada
  3. Ilallah, yaitu dengan tujuan hanya untuk mencari ridha dari Allah SWT

Sudahkah saat ini anda memiliki guru yang bisa mengajarkan cara niat yang ikhlas?

Sudahkah anda memiliki guru yang bisa mengajarkan cara untuk senantiasa bersama Allah SWT dimanapun anda berada ?

Sudahkah anda belajar menetapkan tujuan hanya mencari ridha dari Allah SWT pada guru atau orang yang tepat dengan silsilah yang benar ?

Jika anda belum belajar atau belum memiliki guru yang tidak mengajarkan bagaimana cara ikhlas yang sebenarnya, berarti anda belum masuk kategori bisa ikhlas dong..

Hati-hati, karena Iblis akan menyesatkan orang-orang yang tidak belajar ikhlas atau tidak berpegang kepada Al Mukhlasin (Nabi Muhammad SAW), yaitu Hamba Allah yang Paling Tinggi tingkat keikhlasannya.

Surat As Shaad ayat 82-83

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَ

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba-Mu Al Mukhlasin di antara mereka.


Lihatlah di ayat tersebut, bahwa Iblis akan menyesatkan "semua".. Jadi jangan pernah bilang bahwa "saya sudah ikhlas" tapi belum pernah belajar ikhlas ya..