Bertabaruk sesuai Syariat Islam


Polemik tentang “TABARRUK” masih terus terjadi hingga sekarang, dikalangan umat Islam masih berbeda pandangan tentang hal itu khusus dari kelompok ajaran baru radikal yang mengatasnamakan Islam dan juga terlebih lagi masih banyak umat Islam yang belum memahami secara benar baik definisi maupun tentang tata cara bertabarruk.

Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan dan diberikan penjelasan yang sejalas-jelasnya, karena jika tidak dijelaskan dikhawatirkan akan berdampak negatif pada kehidupan masyarakat, kehidupan beragama dan kehidupan bernegara, jika hal ini tidak segera disikapi maka tidak tertutup kemungkinan akan mengganggu keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang berazaskan kepada Pancasila dan UUD 45 sebagai pemersatu bangsa Indonesia.

Sudah menjadi kenyataan, akibat adanya perbedaan dalam memahami arti dan maksud serta tujuan dari “TABARRUK” maka aplikasi dalam bertabarruk pun akan menjadi keliru dan hasilnya pun akan jauh dari tujuan yang sebebarnya, atau akibat dari kesalahan dalam memahami hal tabarruk ini pula maka dengan mudahnya sekelompok orang menuding dan memfonis orang yang bertabarruk sebagai penyembah berhala, sebagai pelaku ke-syirikan, ke kafiran, seakan akan mereka yang tidak ber-tabarruk adalah sebagai orang yang paling bertauhid, paling benar dan paling selamat di akhirat.

Menjadi perlu untuk dibuat penulisan yang membahas seputar masalah tabarruk, mulai dari arti dan definisinya, sejarah dan dalil-dalil mengenai tabarruk juga tabarruk yang tidak dibenarkan dalam syari‟at Islam. Dengan demikian diharapakan orang yang membaca tulisan ini akan menjadi lebih bijak dalam memahami dan menyikapi masalah yang berkaitan dengan “TABARRUK”.

A. APA SIH ARTI DAN DEFINISI DAN TUJUAN TABARRUK..?

I. Arti Tabaruk.

Kata “TABARRUK” secara bahasa Arab berasal dari kata al Barakah (الْبَرَكَةُُ ) yang berarti “mencari berkah”, atau tambahan dan kemajuan (perkembangan) dalam kebaikan
السِّيَادَةُ وَالنَّمَاءُ فِيْ الْخَيْرِ
Barakah itu adalah Jawami‟ al Khair (pundi-pundi kebaikan) dan banyaknya nikmat yang diperoleh dari Allah
Dari penjelasan ini dipahami bahwa makna Tabarruk adalah:
“طَلَبُ زِيَادَةِ الْخَيْرِ مِنَ اللهِ تَعَالَى”
“Meminta tambahan kebaikan dari Allah ta‟ala“
Pada masyarakat Indonesia istilah tabarruk ini sering disebut dengan istilah “ngalap berkah”, yaitu upaya atau ikhtiar untuk mendapatkan nilai tambah atau mengupayakan sesuatu menjadi lebih bermanfaat dan lebih baik.

II. Definisi Tabarruk

Maka definisi tabarruk dari sisi istilah adalah; “Mengharap berkah dari sesuatu ataupun hal-hal lain yang Allah swt telah memberikan keistimewaan dan kedudukan khusus kepadanya”.
Sebagai contoh:
BERKAH dalam umur yaitu ketika berumur panjang dan memberikan manfaat untuk diri dan masyarakat serta lingkungan, berkah dalam harta adalah bertambah banyaknya rizki atau harta dan bertambah pula kegunaannya untuk kebaikan, barakah dalam keluarga adalah ketika berjumlah banyak dan berakhlak mulia. Barakah dalam waktu adalah lamanya masa dan terselesaikan semua urusan dalam masa yang ada, berkah dalam ilmu adalah ketika ilmu semakin bertambah banyak dan diamalkan serta bermanfaat untuk orang banyak.
Jadi barakah itu adalah Jawami‟ al Khair (pundi-pundi kebaikan) dan banyaknya nikmat yang diperoleh dari Allah Dari penjelasan ini dipahami bahwa makna Tabarruk adalah:
“طَلَبُ زِيَادَةِ الْخَيْرِ مِنَ اللهِ تَعَالَى”.
“Meminta tambahan kebaikan dari Allah ta‟ala“.

Dengan demikian dapatlah difahami bahwa BERTABARRUK bukan mempertuhankan dan bukan menyembah kepada selain Allah SWT.