Dasar Agama

Ilmu Tauhid yang sebenarnya

Kegiatan Akbar

Undangan Umum Maulid Nabi Muhammad SAW

Workshop Pengenalan Allah SWT

Terbatas hanya bagi yang berminat mengenal Allah SWT

Galeri kegiatan Tahunan

Maulid Nabi dan Perayaan Hari-hari Besar Agama

Kegiatan Rutin Bulanan

Pengajian Terbuka untuk Umum setiap awal bulan

PONDOK PESANTREN ALYWAFA TAJUL ARIFIN


Lahan pencirian Pondok Pesantren Majelis Zikir Aly Wafa Tajul Arifin
Lokasi Ds.Hanjawar, Kecama0tan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat
Luas sekitar 11 Hektar dan akan semakin bertambah luas lagi.
Peletakan pondasi Pondok Pesantren di bulan Januari 2018,
Mohon infaq dan sodaqoh untuk mempercepat pembangunan


Bertabaruk sesuai Syariat Islam


Polemik tentang “TABARRUK” masih terus terjadi hingga sekarang, dikalangan umat Islam masih berbeda pandangan tentang hal itu khusus dari kelompok ajaran baru radikal yang mengatasnamakan Islam dan juga terlebih lagi masih banyak umat Islam yang belum memahami secara benar baik definisi maupun tentang tata cara bertabarruk.

Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan dan diberikan penjelasan yang sejalas-jelasnya, karena jika tidak dijelaskan dikhawatirkan akan berdampak negatif pada kehidupan masyarakat, kehidupan beragama dan kehidupan bernegara, jika hal ini tidak segera disikapi maka tidak tertutup kemungkinan akan mengganggu keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang berazaskan kepada Pancasila dan UUD 45 sebagai pemersatu bangsa Indonesia.

Sudah menjadi kenyataan, akibat adanya perbedaan dalam memahami arti dan maksud serta tujuan dari “TABARRUK” maka aplikasi dalam bertabarruk pun akan menjadi keliru dan hasilnya pun akan jauh dari tujuan yang sebebarnya, atau akibat dari kesalahan dalam memahami hal tabarruk ini pula maka dengan mudahnya sekelompok orang menuding dan memfonis orang yang bertabarruk sebagai penyembah berhala, sebagai pelaku ke-syirikan, ke kafiran, seakan akan mereka yang tidak ber-tabarruk adalah sebagai orang yang paling bertauhid, paling benar dan paling selamat di akhirat.

Menjadi perlu untuk dibuat penulisan yang membahas seputar masalah tabarruk, mulai dari arti dan definisinya, sejarah dan dalil-dalil mengenai tabarruk juga tabarruk yang tidak dibenarkan dalam syari‟at Islam. Dengan demikian diharapakan orang yang membaca tulisan ini akan menjadi lebih bijak dalam memahami dan menyikapi masalah yang berkaitan dengan “TABARRUK”.

A. APA SIH ARTI DAN DEFINISI DAN TUJUAN TABARRUK..?

I. Arti Tabaruk.

Kata “TABARRUK” secara bahasa Arab berasal dari kata al Barakah (الْبَرَكَةُُ ) yang berarti “mencari berkah”, atau tambahan dan kemajuan (perkembangan) dalam kebaikan
السِّيَادَةُ وَالنَّمَاءُ فِيْ الْخَيْرِ
Barakah itu adalah Jawami‟ al Khair (pundi-pundi kebaikan) dan banyaknya nikmat yang diperoleh dari Allah
Dari penjelasan ini dipahami bahwa makna Tabarruk adalah:
“طَلَبُ زِيَادَةِ الْخَيْرِ مِنَ اللهِ تَعَالَى”
“Meminta tambahan kebaikan dari Allah ta‟ala“
Pada masyarakat Indonesia istilah tabarruk ini sering disebut dengan istilah “ngalap berkah”, yaitu upaya atau ikhtiar untuk mendapatkan nilai tambah atau mengupayakan sesuatu menjadi lebih bermanfaat dan lebih baik.

II. Definisi Tabarruk

Maka definisi tabarruk dari sisi istilah adalah; “Mengharap berkah dari sesuatu ataupun hal-hal lain yang Allah swt telah memberikan keistimewaan dan kedudukan khusus kepadanya”.
Sebagai contoh:
BERKAH dalam umur yaitu ketika berumur panjang dan memberikan manfaat untuk diri dan masyarakat serta lingkungan, berkah dalam harta adalah bertambah banyaknya rizki atau harta dan bertambah pula kegunaannya untuk kebaikan, barakah dalam keluarga adalah ketika berjumlah banyak dan berakhlak mulia. Barakah dalam waktu adalah lamanya masa dan terselesaikan semua urusan dalam masa yang ada, berkah dalam ilmu adalah ketika ilmu semakin bertambah banyak dan diamalkan serta bermanfaat untuk orang banyak.
Jadi barakah itu adalah Jawami‟ al Khair (pundi-pundi kebaikan) dan banyaknya nikmat yang diperoleh dari Allah Dari penjelasan ini dipahami bahwa makna Tabarruk adalah:
“طَلَبُ زِيَادَةِ الْخَيْرِ مِنَ اللهِ تَعَالَى”.
“Meminta tambahan kebaikan dari Allah ta‟ala“.

Dengan demikian dapatlah difahami bahwa BERTABARRUK bukan mempertuhankan dan bukan menyembah kepada selain Allah SWT.

MENYEMBELIH HEWAN AGAR MENJADI IBADAH

AYO BER QURBAN dengan benar..!

hewan qurban

Qurban adalah ibadah rutin setiap tahun. Karena berqurban adalah suatu ibadah, maka harus dikerjakan dengan landasan ilmu pengetahuan yang benar. Sudahkah kita semua mengetahui landasan ilmu dalam ibadah Qurban ini?

Jika saja, ibadah Qurban ini tidak wajib dilaksanakan dengan ilmu p0engetahuan yang benar dan hanya menggunakan sebilah pisau atau golok yang tajam disertai dengan membaca "Bismillahirohmanirrohim" saja, maka untuk apa Allah SWT mengutus para Nabi dan Rasul, para Wali dan para Ulama ?

Mereka semua diutus agar semua aktifitas manusia memiliki bobot atau kualitas sehingga diridhoi oleh Allah SWT, sebagai Pencipta dan PEmilik hewan, juga semesta alam. Apalagi penyembelihan yang berhubungan dengan IBADAH QURBAN.

QS 22 ( Al Hajj) ayat 37

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayahNya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Penyembelihan hewan untuk qurban dan yang bukan untuk qurban pada dasarnya sama saja caranya, yaitu sama-sama proses pengeluaran/pengembalian "nyawa/roh" kambing/sapi kepada Sang Maha Pencipta. Hanya saja penyembelihan hewan Qurban hanya terjadi pada tanggal 10 Dzulhijah, selain tanggal itu maka tidak disebut sebagai Qurban.

Merujuk pada wahyu Allah di atas dijelaskan bahwa ketika hewan disembelih, maka darah hewan tidak sampai kepada Allah, tetapi mengalir ke bumi. Dagingnya juga tidak sampai kepada Allah, apalagi bulunya. Tetapi daging qurbanhanya diantar atau diberikan kepada masyarakat, baik yang miskin maupun yang kaya.

Lantas apakah yang akan sampai kepada Allah SWT...??

IBADAH QURBAN di Majelis Aly Wafa Tajul Arifin

qurban 2015 idul adha

ALYWAFA TAJUL ARIFIN - Qurban berasal dari bahasa Arab, “Qurban” yang berarti dekat (قربان). Kurban juga disebut dengan al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta, sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.

Berqurban merupakan bagian dari Syariat Islam yang sudah ada semenjak manusia ada. Ketika putra-putra nabi Adam AS diperintahkan berqurban. Maka Allah SWT menerima qurban yang baik dan diiringi ketakwaan dan menolak qurban yang buruk. Allah SWT berfirman:

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa” (QS Al-Maaidah 27).

Qurban lain yang diceritakan dalam Al-Qur’an adalah qurban keluarga Ibrahim AS, saat Beliau diperintahkan Allah SWT untuk mengurbankan anaknya, Ismail AS. Disebutkan dalam surat As-Shaaffaat 102: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Kemudian qurban ditetapkan oleh Rasulullah SAW sebagai bagian dari Syariah Islam, syiar dan ibadah kepada Allah SWT sebagai rasa syukur atas nikmat kehidupan.

Karena Qurban ini adalah bagian ibadah utama di setiap Hari Raya Idul Adha, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk melaksanakannya dengan syariat yang benar.


Penyembelihan hewan Qurban yang dilaksanakan oleh Majelis Aly Wafa Tajul Arifin, Insya Allah pasti sesuai dengan syariat, sesuai dengan ilmu hakikat, dan sesuai ilmu makrifat. Sehingga dapat dipastikan, ibadah yang dikerjakan akan diterima oleh Allah SWT.

Keunikan dari pemotongan hewan Qurban di Majelis Aly Wafa Tajul Arifin diantaranya:
  1. Ijab kabul serah terima hewan Qurban sebelum disembelih.
  2. Disembelih dengan didahului rabithatul Mursyid dan sekalian Silsilah.
  3. Dihantarkan nyawa hewan Qurban dengan doa, takbir dan ilmu yang tersambung dan pasti akan diterima oleh Allah SWT.
  4. Daging Qurban didistribusikan untuk para mustahiq dengan diirngi zikir dan doa, sehingga akan menambah nilai keberkatan dari ibadah yang dilakukan.


Untuk itu, segera daftarkan diri anda dan keluarga untuk QURBAN tahun ini di Majelis Aly Wafa Tajul Arifin dengan mengisi FORM DI BAWAH INI :


foxyform

PEWARIS ILMU SYAHADAH - SILSILAH THORIQOTUS SHUFIYAH SAMMAN QODIRI AL KHALAWATI WA NAQSYABANDI AL KHOILDI


Tarekat atau Thoriqoh atau Toriqoh atau Tarikat atau Tharikat atau Torekot begitulah seperti biasanya kita di Indonesia menyebut suatu istilah dengan banyak bentuk tulisan untuk menggambarkan satu maksud yang sama. Tarekat atau Thoriqoh adalah suku kata dalam bahasa Arab yang dapat diartikan "jalan". 

Jadi, ketika kita menyebut Thoriqoh Shufiyah Samman Qodiri Al Khalawati wa Naqsyabandi Al Kholidi, hal itu dapat diartikan sebagai "jalan" atau cara yang banyak dianut oleh para kaum sufi dan  pengikut dari Syech Muhammad Samman, Syech Abdul Qodir Al Jaelani, Syech Tajul Khalwati, Syech Bahaudin Naqsyabandi dan Syech Abdurrachman Al Kholidi.

Jalan atau cara yang diajarkan pada Thoriqoh atau Tarekat ini mengacu pada pengajaran yang diberikan oleh Rasulullah SAWW yang bersambung kepada para sahabat dan sekalian Ahli Silsilah sehingga sampailah ilmu pengetahuan yang murni tersebut,tanpa bercampur syubhat apalagi kurafat diwariskan kepada Pewaris Ilmu Syahadah saat ini yaitu Al Mursyid dari Majelis Aly Wafa Tajul Arifin sebagai pemegang amanah untuk melakukan syiar dakwah Thoriqoh atau Tarekat Shufiyah Samman Qodiri Al Khalawati wa Naqsyabandi Al Kholidi sedunia dari trah Syech Mudo Abdul Qodim Balubus.

Banyak masyarakat umum yang salah dalam menafsirkan tentang kata Tarekat atau Thoriqoh. Ada sebagian yang menfsirkan kata Tarekat atau Thoriqoh sebagai ajaran yang dipenuhi dengan wirid-wirid dan amalan-amalan doa,hizib dan lain-lain. Ada juga sebagian yang menafsirkan kata Tarekat atau Thoriqoh sebagai aliran sufi yang mana para pengikut ajaran diharuskan untuk meninggalkan kehidupan dunia (uzlah) dan hanya melakukan ibadah-ibadah ukhrowi saja.

Semua itu tidaklah seratus persen salah, cuma disayangkan bila masyarakat hanya mendapatkan pemahaman secara keseluruhan. Padahal arti kata Tarekat atau Thoriqoh itu yang jelas berarti "jalan" adalah suatu cara atau metode untuk menuju kepada pengenalan yang lebih jelas lagi mengenai Sang Pencipta, Allah - Zat Wajibal Wujud, atau di dalam ilmu agama dikenal sebagai ILMU SYAHADAH.

Arti kata Syahadah sendiri, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai penyaksian. Apa yang akan disaksikan pada pelajaran Ilmu Syahadah ini? Tentu saja Zat Wajibal Wujud - Sang Maha Pencipta - yang bernama Allah Subhana Wa Ta'ala. 

Untuk itulah maka Majelis Aly Wafa Tajul Arifin menghimbau dan mengajak seluruh lapisan masyarakat di dunia ini agar segera mempelajari ilmu pengetahuan yang sangat langka ini dikarenakan saat ini Pewaris dari ilmu pengetahuan ini hanya dipegang oleh Al Mursyid - Pimpinan Majelis Pengajian Aly Wafa Tajul Arifin.

Mengapa mempelajari Ilmu Syahadah ini perlu? Dan apa manfaatnya bagi kehidupan dunia dan akhirat? Silakan hubungi kami untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang apa Ilmu Syahadah itu dengan segala penjelasannya.

Anda bisa hubungi no.telepon kami di 021 88854507 atau silakan isi FORM INI agar kami dapat menghubungi anda.