Khalid bin Walid Perang Bertabaruk Rambut Rasulullah SAW

....ia bertabarruk dan selalu memenangkan perang, di antaranya adalah perang Yarmuk.... Dia lebih khawatir kehilangan rambut Sang Nabi SAW daripada kehilangan nyawanya sendiri.

Salah satu perang yang dianggap sangat menentukan alur sejarah peradaban dunia adalah perang Yarmuk (Battle of Hieromyax). Perang diakui oleh sejarawan Barat sebagai perang yang paling gemilang dalam sejarah. Bayangkan saja, pasukan yang jauh lebih kecil jumlahnya mampu membabat habis pasukan lawan yang jumlahnya jauh lebih besar melalui taktik dan strategi perang yang brilian. 

Kemenangan Islam dalam perang Yarmuk juga semakin mengukuhkan prestasi sang Jendral, Khalid bin Walid, sebagai salah satu komandan kavaleri dan panglima perang terbaik sepanjang sejarah. Tak heran jika Erwin Rommel, komandan kavaleri Jerman dalam Perang Dunia II yang terkenal dengan Blitzkrieg (perang kilat) di Eropa, rupanya terinspirasi dari elite mobile guard-nya Khalid bin Walid. Dalam perang Yarmuk pun, pasukan berkuda yang dipimpin oleh Khalid bin Walid memegang kunci kemenangan.

Imam Malik berkata, “Khalid bin Walid RA memiliki sebuah tutup kepala yang berisi beberapa helai rambut Baginda Rasulullah SAW. Dengan itulah ia bertabarruk (ngalab berkah red.) dan selalu memenangkan perang, di antaranya adalah perang Yarmuk.”

Padahal ketika itu jumlah pasukan muslim hanya 39.000 orang menghadapi Bizantium (kerajaan romawi) yang berjumlah 240.000 pasukan. 

Masya Allah…..
Di tengah perang yang sedang berkecamuk hebat, ketika penutup kepalanya terlepas, karena tersabet pedang musuh. Khalid bin Walid tak perduli dengan serangan orang pasukan romawi Dia lebih khawatir kehilangan rambut Sang Nabi SAW daripada kehilangan nyawanya sendiri.

Dalam Perang Yarmuk, Daulah Islam yang dipimpin Khalifah Umar bin Khattab melawan Kekaisaran Bizantium yang dipimpin oleh Heraklius. Perang ini terjadi selama 6 hari penuh, tepatnya pada 15-20 Agustus 636 M, empat tahun setelah Rasulullah SAW mangkat. Medan pertempuran terletak di dataran Yarmuk, sebelah timur laut Galilee, 65 km dari dataran tinggi Golan. Perang ini dianggap sebagai perang yang sangat penting karena menandakan gelombang besar pertama penaklukan dan penyebaran Islam ke wilayah-wilayah di luar Jazirah Arab.

Ahli sejarah kemiliteran abad pertengahan asal Inggris, David Nicolle, dalam buku Yarmuk 636 A.D.: The Muslim Conquest of Syria, menjelaskan bahwa perang Yarmuk adalah turning point (titik balik) sejarah. Seandainya Bizantium yang menang, maka dominasi dan pengaruh peradaban Yunani-Romawi akan terus berlanjut di wilayah Timur Tengah, dan antara kontak bangsa Eropa dengan bangsa Asia Timur –yang dibuka oleh peradaban Islam- akan tertunda.


Tonton Klip Film Perang Yarmuk