Dasar Agama

Ilmu Tauhid yang sebenarnya

Kegiatan Akbar

Undangan Umum Maulid Nabi Muhammad SAW

Workshop Pengenalan Allah SWT

Terbatas hanya bagi yang berminat mengenal Allah SWT

Galeri kegiatan Tahunan

Maulid Nabi dan Perayaan Hari-hari Besar Agama

Kegiatan Rutin Bulanan

Pengajian Terbuka untuk Umum setiap awal bulan

Dalil-dalil dan Perintah Untuk Berzikir kepada Allah SWT

zikir tasbih,tasbih zikir

Dalil-dalil dzikir termasuk  dalil dzikir secara jahar (agak keras)

Firman Allah swt. dalam surat Al-Ahzab 41-42 agar kita banyak berdzikir sebagai berikut :
“Hai orang-orang yang beriman! Berdzikirlah kamu pada Allah sebanyak-banyak nya, dan bertasbihlah pada-Nya diwaktu pagi maupun petang!”.

Dan firman-Nya:                         فَاذْكُرُونِي أذْكُرْكُمْ ………..
“Berdzikirlah (Ingatlah) kamu pada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula padamu! ” (Al–Baqarah :152)

Firman-Nya :                             اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنوُبِهِم
“…Yakni orang-orang dzikir pada Allah baik diwaktu berdiri, ketika duduk dan diwaktu berbaring”.  (Ali Imran :191)

Firman-Nya :                           وَالذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ
مَغْفِرَة وَأجْرًا عَظِيْمٌا.
Dan terhadap orang-orang yang banyak dzikir pada Allah, baik laki-laki maupun wanita, Allah menyediakan keampunan dan pahala besar”.   (Al-Ahzab :35)

Firman-Nya lagi :                                    الَّذِيْنَ آمَنُوا وَ تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ
                        ألآ بِذِكْرِ الله تَطْمَئِنُّ الـقُلُوبُ.

“Yaitu orang-orang yang beriman, dan hati mereka aman tenteram dengan dzikir pada Allah. Ingatlah dengan dzikir pada Allah itu, maka hatipun akan merasa aman dan tenteram”.     (Ar-Ro’d : 28)

Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah, Rasul saw. bersabda : Allah swt.berfirman :
اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْـدِي بِي, وَاَنَا مَعَهُ حِيْنَ يَذْكـرُنِي, فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُ وَإنِ اقْتَرَبَ اِلَيَّ شِبْرًا اتَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِرَاعًا وَإنِ اقْتَرَبَ إلَيَّ ذِرَاعًا اتَقـَرَّبْتُ إلَيْهِ بَاعًـا وَإنْ أتَانِيْ يَمْشِيأتَيْتُهُ هَرْوَلَة.
“Aku ini menurut prasangka hambaKu, dan Aku menyertainya, dimana saja ia berdzikir pada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hati-Ku, jika ia mengingat-Ku didepan umum, maka Aku akan mengingatnya pula didepan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sehasta, jika ia mendekat pada-Ku sehasta, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”. (HR. Bukhori  Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Baihaqi).

Allamah Al-Jazari dalam kitabnya Miftaahul Hishnil Hashin berkata : ‘Hadits diatas ini terdapat dalil tentang bolehnya berdzikir dengan jahar/agak keras’. Imam Suyuthi juga berkata:  ‘Dzikir dihadapan orang orang tentulah dzikir dengan jahar, maka hadits itulah yang menjadi dalil atas bolehnya’

Hadits qudsi dari Mu’az bin Anas secara marfu’: Allah swt.berfirman:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: لاَ يَذْكُرُنِي اَحَدٌ فِى نفْسِهِ اِلاَّ ذَكّرْتُهُ فِي مَلاٍ مِنْ مَلاَئِكَتِي
وَلاَيَذْكُرُنِي فِي مَلاٍ اِلاَّ ذَكَرْتُهُ فِي المَلاِ الاَعْلَي.
“Tidaklah seseorang berdzikir pada-Ku dalam hatinya kecuali Akupun akan berdzikir untuknya dihadapan para malaikat-Ku. Dan tidak juga seseorang berdzikir pada-Ku dihadapan orang-orang kecuali Akupun akan berdzikir untuknya ditempat yang tertinggi’ “.  (HR. Thabrani).
At-Targib wat-tarhib 3/202 dan Majma’uz Zawaid 10/78. Al Mundziri berkata : ‘Isnad hadits diatas ini baik (hasan). Sama seperti pengambilan dalil yang pertama bahwa berdzikir dihadapan orang-orang maksudnya adalah berdzikir secara jahar ’ !

Hadits dari Abu Hurairah sebagai berikut:
سَبَقَ المُفَرِّقُونَ, قاَلُوْا: وَمَا المُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيْرًاوَالذَّاكِرَاتِ (رواه المسلم)
Telah majulah orang-orang istimewa! Tanya mereka ‘Siapakah orang-orang istimewa?’ Ujar Nabi saw. ‘Mereka ialah orang-orang yang berdzikir baik laki-laki maupun wanita’ ”. (HR. Muslim).

Hadits dari Abu Musa Al-Asy’ary ra  sabda Rasul saw.:
‘Perumpamaan orang-orang yang dzikir pada Allah dengan yang tidak, adalah seperti orang yang hidup dengan yang mati!” (HR.Bukhori).

Dalam riwayat Muslim: “Perumpamaan perbedaan antara rumah yang dipergunakan dzikir kepada Allah didalamnya dengan rumah yang tidak ada dzikrullah didalamnya, bagaikan perbedaan antara hidup dengan mati”.

Hadits dari Abu Sa’id Khudri dan Abu Hurairah ra. bahwa mereka mendengar sendiri dari Nabi saw. bersabda :
لاَ يَقْـعُدُ قَوْمٌ يَذْكُـرُنَ اللهَ تَعَالَى إلاَّ حَفَّتْـهُمُ المَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمةُ, وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ.
“Tidak satu kaumpun yang duduk dzikir kepada Allah Ta’ala, kecuali mereka akan dikelilingi Malaikat, akan diliputi oleh rahmat, akan beroleh ketenangan, dan akan disebut-sebut oleh Allah pada siapa-siapa yang berada disisi-Nya”. (HR.Muslim, Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah dan Baihaqi).

Hadits dari Mu’awiyah :                                            
خَرَجَ رَسُولُ الله (صَ) عَلَى حَلَقَةِ مِنْ أصْحَابِهِ فَقَالَ: مَا اَجْلََسَكُم ؟ قَالُوْا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلإسْلاَمِِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ: اللهُ مَا أجْلَسـَكُمْ إلاَّ ذَالِك ؟ قَالُوْا وَاللهُ مَا اَجْلَسَنَا اِلاَّ ذَاكَ. قَالَ : اَمَا إنِّي لَمْ أسْتَخْلِفكُم تُهْمَةُ لـَكُمْ, وَلَكِنَّهُ أتَانِي جِبْرِيْلُ فَأخْـبَرَنِي أنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبـَاهِي بِكُمُ المَلآئِكَةَ.
“Nabi saw. pergi mendapatkan satu lingkaran dari sahabat-sahabatnya, tanyanya  ‘Mengapa kamu duduk disini?’ Ujar mereka : ‘Maksud kami duduk disini adalah untuk dzikir pada Allah Ta’ala dan memuji-Nya atas petunjuk dan kurnia yang telah diberikan-Nya pada kami dengan menganut agama Islam’. Sabda Nabi saw.  ‘Demi Allah tak salah sekali !  Kalian duduk hanyalah karena itu. Mereka berkata : Demi Allah kami duduk karena itu. Dan saya, saya tidaklah minta kalian bersumpah karena menaruh curiga pada kalian, tetapi sebetulnya Jibril telah datang dan menyampaikan bahwa Allah swt. telah membanggakan kalian terhadap Malaikat’ “. (HR.Muslim)

Diterima dari Ibnu Umar bahwa Nabi saw. bersabda :
إذَا مَرَرْتُم بِرِيَاضِ الجَنَّة فَارْتَعُوْا, قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الجَنَّة يَا رَسُولُ الله ؟ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ فَإنَّ لِلَّهِ تَعَالَى سَيَّرَاتٍ مِنَ المَلآئِكَةَ يَطْلُبُونَ حِلَـقَ الذِّكْرِ فَإذَا أتَوْا عَلَيْهِمْ حَفُّوبِهِمْ.
“Jika kamu lewat di taman-taman surga, hendaklah kamu ikut bercengkerama! Tanya mereka : Apakah itu taman-taman surga ya Rasulallah? Ujar Nabi saw. : Ialah lingkaran-lingkaran dzikir karena Allah swt. mempunyai rombongan pengelana dari Malaikat yang mencari-cari lingkaran dzikir. Maka jika ketemu dengannya mereka akan duduk mengelilinginya”.

Hadits riwayat Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulallah saw.bersabda :
عَنْ أبِيْ هُرَيْرَة(ر) قَالَ: رَسُولُ الل.صَ. : إنَّ اللهَ مَلآئِكَةً يَطًوفُونَ فِي الطُُّرُقِ يَلتَمِسُونَ أهْلِ الذّكْرِ, فَإذَا وَجَدُوا قـَوْمًا يَذْكُرُونَ اللهَ تَناَدَوْا : هَلُمُّـوْا إلَى حَاجَتِكُمْ, فَيَحُفّـُونَهُمْ بِأجْنِحَتِهِمْ إلَى السَّمَاءِ, فَإذَا تَفَرَّقُوْا عَرَجُوْا وَصَعِدُوْا اِلَى السَّمَاءِ فَيَسْألُهُمْ رَبُّـهُم ( وَهُوَ أعْلَمُ  بِهِمْ ) مِنْ اَيْنَ جِئْتُمْ ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عَبَيْدٍ فِي الاَرْضِ يُسَبِّحُوْنَكَ وَيُكَبِّرُوْنَكَ وَيُهَلِّلُوْنَكَ. فَيَقُوْلُ : هَلْ رَأوْنِي؟ فَيَقُولُوْنَ : لاَ, فَيَقُوْلُ : لَوْ رَأوْنِي؟ فَيَقوُلُوْنَ : لَوْ رَأوْكَ كَانُوْا اَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً, وَ اَشَدَّ لَكَ تَمْجِيْدًا وَاَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيْحًا, فَيَقُوْلُ : فَمَا يَسْألُنِى ؟ فَيَقوُلُوْنَ : يَسْألُوْنَكَ الجَنَّةَ, فَيَقُوْلُ : وَهَلْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ : لاَ, فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ : لَوْ اَنَّهُمْ رَأوْهَا كَانُوْا اَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَ اَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَاَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً. فَيَقُوْلُ : فَمِمَّا يَتَعَوَّذُوْنَ ؟ فَيَقولُوْنَ : مِنَ النَّارِ, فَيَقُوْلُ : وَهَلْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ : لاَ, فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُلُوْنَ : لَوْ رَأوْهَا كاَنُوْا اَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا, فَيَقُوْلُ : اُشْهِدُكُمْ اَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ, فَيَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ المَلاَئِكَةِ : فُلاَنٌ فَلَيْسَ مِنهُمْ, اِنَّمَا جَائَهُمْ لِحَاجَةٍ فَيَقُوْلُ : هًمْ قَوْمٌ لاَ يَشْقَى جَلِيْسُهُمْ.
 “Sesungguhnya Allah memilik sekelompok Malaikat yang berkeling dijalan-jalan sambil mencari orang-orang yang berdzikir. Apabila mereka menemu- kan sekolompok orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka saling menyeru :’Kemarilah kepada apa yang kamu semua hajatkan’. Lalu mereka mengelilingi orang-orang yang berdzikir itu dengan sayap-sayap mereka hingga kelangit. Apabila orang-orang itu telah berpisah (bubar dari majlis dzikir) maka para malaikat tersebut berpaling dan naik kelangit. Maka bertanyalah Allah swt. kepada mereka (padahal Dialah yan lebih mengetahui perihal mereka). Allah berfirman : Darimana kalian semua ? Malaikat berkata : Kami datang dari sekelompok hambaMu dibumi. Mereka bertasbih, bertakbir dan bertahlil kepadaMu. Allah berfirman : Apakah mereka pernah melihatKu ? Malaikat berkata: Tidak pernah ! Allah berfirman : Seandainya mereka pernah melihatKu ? Malaikat berkata: Andai mereka pernah melihatMu niscaya mereka akan lebih meningkatkan ibadahnya kepadaMu, lebih bersemangat memujiMu dan lebih banyak bertasbih padaMu. Allah berfirman: Lalu apa yang mereka pinta padaKu ? Malaikat berkata: Mereka minta sorga kepadaMu. Allah berfirman : Apa mereka pernah melihat sorga ? Malaikat berkata : Tidak pernah! Allah berfirman: Bagaimana kalau mereka pernah melihatnya? Malikat berkata: Andai mereka pernah melihanya niscaya mereka akan bertambah semangat terhadapnya, lebih bergairah memintanya dan semakin besar keinginan untuk memasukinya. Allah berfirman: Dari hal apa mereka minta perlindungan ? Malaikat berkata: Dari api neraka. Allah berfirman : Apa mereka pernah melihat neraka ? Malaikat berkata: Tidak pernah! Allah berfirman: Bagaimana kalau mereka pernah melihat neraka ? Malaikat berkata: Kalau mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan sekuat tenaga menghindarkan diri darinya. Allah berfirman: Aku persaksikan kepadamu bahwasanya Aku telah mengampuni mereka. Salah satu dari malaikat berkata : Disitu ada seseorang yang tidak termasuk dalam kelompok mereka. Dia datang semata-mata karena ada satu keperluan (apakah mereka akan diampuni juga ?). Allah berfirman : Mereka (termasuk seseorang ini) adalah satu kelompok dimana orang yang duduk bersama mereka tidak akan kecewa”.   

Dalam riwayat Muslim ada tambahan pada kalimat terakhir : ‘Aku ampunkan segala dosa mereka, dan Aku beri permintaan mereka’.

Empat hadits terakhir ini jelas menunjukkan keutamaan kumpulan majlis dzikir, Allah swt.akan melimpahkan rahmat, ketenangan dan ridho-Nya pada para hadirin termasuk disini orang yang tidak niat untuk berdzikir serta majlis seperti itulah yang sering dicari dan dihadiri oleh para malaikat. Alangkah bahagianya bila kita selalu kumpul bersama majlis-majlis dzikir yang dihadiri oleh malaikat tersebut sehingga do’a yang dibaca ditempat majlis dzikir tersebut lebih besar harapan untuk diterima oleh Allah swt. Juga hadits-hadits tersebut menunjukkan mereka berkumpul berdzikir secara jahar, karena berdzikir secara sirran/pelahan sudah biasa dilakukan oleh perorangan !

Al-Baihaqiy meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik ra bahwa Rasul- Allah saw. bersabda:
لاَنْ اَقْعُدَنَّ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى مِنْ بَعْدِ صَلاَةِ الْفَجْرِ ِالَى طُلُوْعِ الشَّمْسِ اَحَبُّاِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا (رواه البيهاقي)
Sungguhlah aku berdzikir menyebut (mengingat) Allah swt. bersama jamaah usai sholat Shubuh hingga matahari terbit, itu lebih kusukai daripada dunia seisinya.”

Juga dari Anas bin Malik ra riwayat Abu Daud dan Al-Baihaqiy bahwa Nabi saw. bersabda: ‘Sungguhlah aku duduk bersama jamaah berdzikir menyebut Allah swt. dari salat ‘ashar hingga matahari terbenam, itu lebih kusukai daripada memerdekakan empat orang budak.’

Riwayat Al Baihaqy dari Abu Sa’id Al Khudrij ra, Rasul saw bersabda :
يَقُوْلُ الرَّبُّ جَلَّ وَعَلاَ يَوْمَ القِيَامَةِ سَيَعْلَمُ هَؤُلاَءِ الْجَمْعَ الْيَوْمَ مَنْ اَهْلُ الْكَرَمِ؟ فَقِيْلَ مَنْ اَهْلُ الْكَرَمِ؟ قَالَ : اَهْلُ مَجَالِسِ الذِّكْرِ فِي الْمَسَاجِدِ (رواه البيهاقي)
“Allah jalla wa ‘Ala pada hari kiamat kelak akan bersabda: ’Pada hari ini ahlul jam’i akan mengetahui siapa orang ahlul karam (orang yang mulia). Ada yg bertanya: Siapakah orang-orang yg mulia itu? Allah menjawab, Mereka adalah orang-orang peserta majlis-majlis dzikir di masjid-masjid ”.

Ancaman bagi orang yang menghadiri kumpulan tanpa disebut nama Allah
dan Shalawat atas Nabi saw.
Hadits riwayat Turmudzi (yang menyatakan Hasan) dari Abu Hurairah, sabda Nabi saw :
مَا قَعَدَ قَوْمُ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرُونَ اللهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى النَّبِيِّ اِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه الترمذي وقال حسن)
“Tiada suatu golonganpun yang duduk menghadiri suatu majlis tapi mereka disana tidak dzikir pada Allah swt. dan tak mengucapkan shalawat atas Nabi saw., kecuali mereka akan mendapat kekecewaan di hari kiamat”.

Juga diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dengan kata-katanya yang berbunyi sebagai berikut :

            وَرَوَاهُ اَحْمَدُ بِلَفْظٍ مَا جَلَسَ قَوْمُ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوْا اللهَ فِيهِ اِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تَرَةً
‘Tiada ampunan yang menghadiri suatu majlis tanpa adanya dzikir kepada Allah Ta’ala, kecuali mereka akan mendapat tiratun artinya kesulitan… “.
Dalam buku Fathul ‘Alam tertera : Hadits tersebut diatas menjadi alasan atas wajibnya (pentingnya) berdzikir dan membaca shalawat atas Nabi saw. pada setiap majlis.

Hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda:
.صَ. مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ                                                          قَالَ رَسُوْلَ اللهِ
لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالىَ فِيْهِ اِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً  (رواه  ابو داود
“Tiada suatu kaum yang bangun (bubaran) dari suatu majlis dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah dalam majlis itu, melainkan mereka bangun dari sesuatu yang serupa dengan bangkai himar/keledai, dan akan menjadi penyesalan mereka kelak dihari kiamat ”.    (HR.Abu Daud)

Hadits-hadits diatas mengenai kumpulan atau lingkaran majlis dzikir itu sudah jelas menunjukkan adanya pembacaan dzikir bersama-sama dengan secara jahar, karena berdzikir sendiri-sendiri itu akan dilakukan secara lirih (pelan). Lebih jelasnya mari kita rujuk lagi hadits shohih yang membolehkan dzikir secara jahar.

Hadits dari Abi Sa’id Al-Khudri ra. dia berkata :
اَكْثِرُوْا ذِكْرَاللهَ حَتَّى يَقُولُ اِنَّهُ مَجْنُوْنٌ.
“Sabda Rasulallah saw.  ‘Perbanyaklah dzikir kepada Allah sehingga mereka (yang melihat dan mendengar) akan berkata : Sesungguhnya dia orang gila’ “  (HR..Hakim, Baihaqi dalam Syu’abul Iman , Ibnu Hibban, Ahmad, Abu Ya’la dan Ibnus Sunni)

Hadits dari Ibnu Abbas ra. dia berkata : Rasulallah saw. bersabda :
اَكْثِرُوْا ذِكْرَاللهَ حَتَّى يَقُولَ المُنَافِقُوْنَ اِنَّكُمْ تُرَاؤُوْنَ
Banyak banyaklah kalian berdzikir kepada Allah sehingga orang-orang munafik akan berkata : ’Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang riya’ (HR. Thabrani)

Imam Suyuthi dalam kitabnya Natiijatul Fikri fil jahri biz dzikri berkata : “Bentuk istidlal dengan dua hadits terakhir diatas ini adalah bahwasanya ucapan dengan ‘Dia itu gila’ dan ‘Kamu itu riya’ hanyalah dikatakan terhadap orang-orang yang berdzikir dengan jahar, bukan dengan lirih (sir).”

Hadits dari Zaid bin Aslam dari sebagian sahabat, dia berkata :
ِ اِنْطَلَقْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ(صَ) لَيْلَةً, فَمَرَّ بِرَجُلٍ فِي المَسْجِدِ يِرْفَعُ صَوْتَهُ فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ عَسَى اَنْ يَكُوْنَ هَذَا مُرَائِيًا فَقَالَ: لاَ وَلاَكِنَّهُ اَوَّاهُ. (رواه البيهاقي)
‘Aku pernah berjalan dengan Rasulallah saw. disuatu malam. Lalu beliau melewati seorang lelaki yang sedang meninggikan suaranya disebuah masjid. Akupun berkata : Wahai Rasuallah, jangan-jangan orang ini sedang riya’. Beliau berkata : “Tidak ! Akan tetapi dia itu seorang awwah (yang banyak mengadu kepada Allah)”.   (HR.Baihaqi)

Lihat hadits ini Rasul saw. tidak melarang orang yang dimasjid yang sedang berdzikir secara jahar (agak keras). Malah beliau saw. mengatakan dia adalah seorang yang banyak mengadu pada Allah (beriba hati dan menyesali dosanya pada Allah swt.) Sifat menyesali kesalahan pada Allah swt itu adalah sifat yang paling baik !

Hadits dari Uqbah bahwasanya Rasulallah saw. pernah berkata kepada seorang lelaki yang biasa dipanggil Zul Bijaadain   ‘Sesungguhnya dia orang yang banyak mengadu kepada Allah. Yang demikian itu karena dia sering berdzikir kepada Allah’. (HR.Baihaqi). (Julukan seperti ini jelas menunjukkan bahwa Zul- Bijaadain sering berdzikir secara jahar).    
                              
Hadits dari Amar bin Dinar, dia berkata : Aku dikabarkan oleh Abu Ma’bad bekas budak Ibnu Abbas yang paling jujur dari tuannya yakni Ibnu Abbas dimana beliau berkata :
اَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ المَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ
‘Sesungguhnya berdzikir dengan mengeraskan suara ketika orang selesai melakukan shalat fardhu pernah terjadi dimasa Rasulallah saw.’.(HR.Bukhori dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain diterangkan bahwa Ibnu Abbas berkata : ‘Aku mengetahui selesainya shalat Rasulallah saw. dengan adanya ucapan takbir beliau (yakni ketika berdzikir)’.  (HR.Bukhori Muslim)

Ibnu Hajr dalam kitabnya Khatimatul Fatawa mengatakan: “Wirid-wirid, bacaan-bacaan secara jahar, yang dibaca oleh kaum Sufi (para penghayat ilmu tasawwuf) setelah sholat menurut kebiasaan dan suluh (amalan-amalan khusus yang ditempuh kaum Sufi) sungguh mempunyai akar/dalil yang sangat kuat”.

Sedangkan hadits-hadits Rasul saw. yang diriwayatkan oleh  Muslim mengenai berdzikir secara jahar selesai sholat sebagai berikut :

Hadits nr. 357: Dari Ibnu Abbas, katanya: “Dahulu kami mengetahui selesainya sembahyang Rasulullah saw. dengan ucapan beliau “takbir”.

Hadits nr. 358 : Dari Ibnu Abbas, katanya “Bahwa dzikr dengan suara lantang/agak keras setelah selesai sembahyang adalah kebiasaaan dizaman Nabi saw.  Kata Ibnu Abbas. Jika telah kudengar suara berdzikir, tahulah saya bahwa orang telah bubar sembahyang”.

Hadits nr. 366: Dari Abu Zubair katanya: “Adalah Abdullah bin Zubair mengucapkan pada tiap-tiap selesai sembahyang sesudah memberi salam:….” Kata Abdullah bin Zubair” Adalah Rasulullah saw. Mengucapkannya dengan suara yang lantang tiap-tiap selesai sembahyang”

Ketiga hadits terakhir ini dikutip dari kitab “Terjemahan hadits Shahih Muslim” jilid I, II dan III terbitan Pustaka Al Husna, I/39 Kebon Sirih Barat, Jakarta, 1980.

Al-Imam al-Hafidz Al-Maqdisiy dalam kitabnya ‘Al-Umdah Fi Al-Ahkaam’  hal.25 berkata:
“Abdullah bin Abbas menyebutkan bahwa berdzikir dengan meng- angkat suara dikala para jemaah selesai dari sembahyang fardhu adalah diamalkan sentiasa dizaman Rasullullah saw.. Ibnu Abbas berkata “Saya memang mengetahui keadaan selesainya Nabi saw. dari sembahyangnya (ialah dengan sebab saya mendengar) suara takbir (yang disuarakan dengan nyaring).” (HR Imam Al-Bukhari, Muslim dan Ibnu Juraij).

Hadits yang sama dikemukakan juga oleh Imam Abd Wahab Asy-Sya’rani dalam kitabnya Kasyf al-Ghummah hal.110; demikian juga Imam Al-Kasymiriy dalam kitabnya Fathul Baari hal. 315 dan As-Sayyid Muhammad Siddiq Hasan Khan dalam kitabnya Nuzul Al-Abrar hal.97; Imam Al-Baghawiy dalam kitabnya Mashaabiih as-Sunnah 1/48 dan Imam as-Syaukani dalam Nail al-Autar.

Dalam shohih Bukhori dari Ibnu Abbas ra beliau berkata : ‘Kami tidak mengetahui selesainya shalat orang-orang di masa Rasulallah saw. kecuali dengan berdzikir secara jahar’.

Dan masih banyak lagi dalil mengenai keutamaan kumpulan berdzikir yang belum saya cantumkan disini tapi insya Allah dengan adanya semua hadits diatas cukup jelas bagi kita dan bisa ambil kesimpulan bahwa (kumpulan) berdzikir baik dengan lirih maupun jahar/agak keras itu tidaklah dimakruhkan atau dilarang bahkan didalamnya justru terdapat dalil yang menunjukkan ‘kebolehannya’, atau ‘kesunnahannya’.

Demikian juga dzikir dengan jahar itu dapat menggugah semangat dan melembutkan hati, menghilangkan ngantuk, sesuatu yang tidak akan didapatkan pada dzikir secara lirih (sir). Dan diantara yang membolehkan lagi dzikir jahar ini adalah ulama mutaakhhirin terkemuka Al-‘Allaamah Khairuddin ar-Ramli dalam risalahnya yang berjudul Taushiilul murid ilal murood bibayaani ahkaamil ahzaab wal-aurood mengatakan sebagai berikut : “Jahar dengan dzikir dan tilawah, begitu juga berkumpul untuk berdzikir baik itu di majlis ataupun di masjid adalah sesuatu yang dibolehkan dan disyari’atkan ber- dasarkan hadits Nabi saw : ‘Barangsiapa berdzikir kepadaKu dihadapan orang orang, maka Akupun akan berdzikir untuknya dihadapan orang-orang yang lebih baik darinya’ dan firman Allah swt. ‘Seperti dzikirmu terhadap nenek-moyangmu atau dzikir yang lebih mantap lagi’ (Al-Baqoroh: 200) bisa juga dijadikan sebagai dalilnya. “

Nabi Adam pun Bertawassul pada Nabi Muhammad SAW

“Engkau benar, wahai Adam. Sesungguhnya dia adalah makhluk yang paling Aku cintai. Berdoalah kepadaku dengan haknya, niscaya Aku mengampunimu. Jika bukan karena Muhammad, niscaya tidak Aku ciptakan dirimu.”

Bila jalan untuk mendapatkan rahmat dan ampunan Allah, sebagaimana dikatakan oleh para ulama, sebanyak bilangan napas setiap makh­luk Allah, tawasul kepada Rasulullah SAW dalam berbagai hajat dan kondisi adalah salah satu jalan paling agung untuk mendapatkan limpahan curahan rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

Hakikat itulah yang tidak tersamar sedikit pun dalam pandangan para ahli ma’rifah di dalam setiap gerak-gerik dan upaya mereka meraih limpahan karunia Ilahi. Karenanya tak mengherankan jika mereka kemudian menjadikan tawasul sebagai bagian terindah dalam setiap rangkaian doa yang mereka panjatkan.

Dalam syair Burdah-nya yang ter­amat indah dan termasyhur, Imam Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id Ash-Shanhaji Al-Bushiri mengung­kapkan bait-bait tawasui kepada Rasul­ullah SAW:

Wahai makhluk yang paling mulia Tiada ada satu apa pun yang ‘ku bersandar padanya selain engkau di saat turunnya bencana yang menimpa seluruh makhluk
Wahai Rasulullah,
sungguh tiada berkurang derajatmu karenaku
di saat Yang Maha Pemurah bertajalli dengan asma-Nya Yang Maha Pendendam

Dahsyatnya tawasul tidak hanya di­kenal oleh umat Islam, melainkan sudah dikenal oleh umat-umat penganut aga­ma samawi sejak dahulu kala, sebagaimana dinukilkan dalam kitab-kitab ula­ma. Karena manusia yang pertama kali bertawasul adalah ayah semua manu­sia, yakni Nabi Adam AS.

Dari Umar RA, Rasulullah SAW ber­sabda, “Setelah Adam mengakui kesa­lahan yang dilakukannya, ia berkata, ‘Wahai Tuhanku, Aku memohon dengan hak Muhammad agar Engkau mengampuniku.’

Allah berfirman, ‘Wahai Adam, bagai­mana engkau tahu Muhammad padahal Aku belum menciptakannya.’

Adam menjawab, ‘Wahai Tuhanku, (aku mengetahuinya) karena setelah Engkau menciptakanku dengan tangan- Mu dan Engkau tiupkan ruh-Mu kepada­ku, aku menengadahkan kepalaku, maka aku lihat di atas tiang-tiang arsy tertulis La ilaha illallah Muhammadur rasulullah (Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah rasul Allah). Aku pun tahu bahwa sesungguhnya tiadalah Engkau menyandarkan suatu nama ke­pada nama-Mu kecuali ia makhluk yang paling Engkau cintai.’

Allah berfirman, ‘Engkau benar, wahai Adam. Sesungguhnya ia adalah makhluk yang paling Aku cintai. Berdoa­lah kepadaku dengan haknya, niscaya Aku mengampunimu. Jika bukan karena Muhammad, niscaya tidak Aku ciptakan dirimu.”

Lewat jalur yang berbeda, sebagai­mana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, dari Ibn Abbas, terdapat tambahan lafazh, “Allah berfirman, ‘Jika bukan karena Muhammad, niscaya tidak Aku ciptakan Adam, tidak pula surga, dan tidak pula neraka’.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Al-Hafizh As- Suyuthi dalam Al-Khashaish an-Naba- wiyah, Al-Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah, dan Ath-Thabarani dalam Al- Awsath.

Dalam riwayat yang lain, sebagai­mana dikeluarkan oleh Ibnul Mundzir da­lam tafsirnya, dari Muhammad Bin Ali bin Husain bin Ali ‘alaihimus salam, ia ber­kata, “Setelah Adam melakukan kesa­lahan, teramat beratlah duka yang di­rasakannya dan teramat mendalam pe­nyesalannya. Kemudian datanglah Jibril menemuinya dan berkata, ‘Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pintu taubatmu yang Allah akan mengampuni­mu melalui pintu itu?’

Adam menjawab, ‘Tentu, wahai Jibril.’

Jibril berkata, ‘Berdirilah, wahai Adam, duduklah di tempat engkau ber­munajat kepada Tuhanmu. Agungkanlah Dia dan pujilah, karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang lebih Allah sukai daripada pujian.’

Adam bertanya kembali, ‘Lalu apa yang harus aku ucapkan, wahai Jibril?’

Jibril berkata, ‘Ucapkanlah: Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha satu, tiada sekutu bagi-Nya. Hanya bagi-Nyalah segala kekuasaan dan hanya milik-Nya- lah segala pujian. Yang Maha Meng­hidupkan dan Mematikan. Dia Mahahidup dan tidak akan pernah mati. Di tangan- Nya-lah segala kebaikan dan Dia Maha­kuasa atas segala sesuatu.’ Setelah itu engkau akui kesalahanmu dan ucapkan, ‘Mahasuci Engkau, ya Allah. Dengan se­gala puji bagi-Mu, tiada Tuhan selain Engkau, wahai Tuhanku, sungguh aku te­lah berbuat zhalim terhadap diriku sendiri dan aku telah perbuat keburukan, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni selain Engkau. Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu dengan kedudukan Muhammad, hamba-Mu, dan dengan kemuliaannya di hadapan-Mu, agar Engkau mengampuniku atas kesalahanku.’

Maka Adam pun melakukannya.

Lalu Allah berkata, ‘Wahai Adam, siapa yang mengajarimu hal itu?’

Adam menjawab, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya setelah Engkau meniup­kan ruh-Mu dan aku telah menjadi manu­sia seutuhnya dan aku dapat mende­ngar, melihat, memikirkan, dan meng­amati, aku melihat di sisi arsy-Mu tertulis Bismillahirrahmanirrahim, la Ilahaillallah wahdahu la syarikalah Muhammadur rasulullah. Dan setelah aku tidak melihat setelah nama-Mu nama seorang malaikat muqarrabun dan tidak pula nama se­orang nabi yang diutus pun selain nama­nya, mengertilah aku bahwa sesungguh­nya ia adalah makhluk paling mulia di sisi-Mu.’

Allah berfirman, ‘Engkau benar. Dan sungguh Aku telah menerima taubatmu dan mengampunimu’.”



Terapi Hati: Penyakit Riya’, Suka Pamer

penyakit hati

Menurut bahasa artinya pamer, memperlihatkan, memamerkan, atau ingin memperlihatkan yang bukan sebenarnya, sedang menurut istilah yaitu memperlihatkan suatu ibadah dan amal shalih kepada orang lain, bukan karena Allah tetapi karena sesuatu selain Allah, dengan harapan agar mendapat pujian atau penghargaan dari orang lain. Sedang memperdengarkan ucapan tentang ibadah dan amal salehnya kepada orang lain disebut sum’ah (ingin didengar).
 
Riya’ dan sum’ah merupakan perbuatan tercela dan hukumnya haram. Riya’ sebagai salah satu sifat orang munafik yang seharusnya dijauhi oleh orang mukmin. 

Simak QS. An Nisa’ [4] 142

clip_image009
Artinya : “Sesungguhnya orang-rang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan jika mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya’ ( dengan shalat itu ) dihadapan manusia, dan tidaklah mereka dzkiri kepada Allah kecuali sedikit sekali.”

Dalam sebuah hadis, Rasulullah bercerita, ”Di hari kiamat nanti ada orang yang mati syahid diperintahkan oleh Allah untuk masuk ke neraka. Lalu orang itu melakukan protes, ‘Wahai Tuhanku, aku ini telah mati syahid dalam perjuangan membela agama-Mu, mengapa aku dimasukkan ke neraka?’ Allah menjawab, ‘Kamu berdusta dalam berjuang. Kamu hanya ingin mendapatkan pujian dari orang lain, agar dirimu dikatakan sebagai pemberani.

Dan, apabila pujian itu telah dikatakan oleh mereka, maka itulah sebagai balasan dari perjuanganmu’.” Orang yang berjuang atau beribadah demi sesuatu yang bukan ikhlas karena Allah SWT, dalam agama disebut riya. Sepintas, sifat riya merupakan perkara yang sepele, namun akibatnya sangat fatal. Sifat riya dapat memberangus seluruh amal kebaikan, bagaikan air hujan yang menimpa debu di atas bebatuan.
Allah SWT berfirman QS. Al-Furqan [25] : 23

clip_image011
Artinya : ”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.
Abu Hurairah RA juga pernah mendengar Rasulullah bersabda, ”Banyak orang yang berpuasa, namun tidak memperoleh sesuatu dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga, dan banyak pula orang yang melakukan shalat malam yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali tidak tidur semalaman.”

Begitu dahsyatnya penyakit riya ini, hingga ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah, ”Apakah keselamatan itu?” Jawab Rasulullah, ”Apabila kamu tidak menipu Allah.” Orang tersebut bertanya lagi, ”Bagaimana menipu Allah itu?” Rasulullah menjawab, ”Apabila kamu melakukan suatu amal yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepadamu, maka kamu menghendaki amal itu untuk selain Allah.”

Meskipun riya sangat berbahaya, tidak sedikit di antara kita yang teperdaya oleh penyakit hati ini. Kini tidak mudah untuk menemukan orang yang benar-benar ikhlas beribadah kepada Allah tanpa adanya pamrih dari manusia atau tujuan lainnya, baik dalam masalah ibadah, muamalah, ataupun perjuangan. Meskipun kadarnya berbeda-beda antara satu dan lainnya, tujuannya tetap sama: ingin menunjukkan amaliyahnya, ibadah, dan segala aktivitasnya di hadapan manusia.

Secara tegas Rasulullah pernah bersabda, ”Takutlah kamu kepada syirik kecil.” Para shahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan syirik kecil?” Rasulullah berkata, ”Yaitu sifat riya. Kelak di hari pembalasan, Allah mengatakan kepada mereka yang memiliki sifat riya, ‘pergilah kalian kepada mereka, di mana kalian pernah memperlihatkan amal kalian kepada mereka semasa di dunia. Lihatlah apakah kalian memperoleh imbalan pahala dari mereka’

Amal perbuatan yang diridlai Allah
  1. Niat karena Allah
  2. Ikhlas
  3. Sesuai dengan kemampuan
  4. Tidak pilih kasih
  5. Rahmat bagi seluruh alam
Amal perbuatan ria
  1.  Niat bukan karena Allah
  2. Tidak ikhlas
  3. Mengada-ada
  4. Pilih kasih
  5. Ingin dipuji
  6. Mengharap imbalan
Dilihat dari bentuknya, ria dapat digolongkan 2 macam, yaitu :

a. Riya dalam niat

Ria yang berkaitan dengan hati, maksud ria dalam niat, yaitu sejak awal perbuatan bahkan yang dilakukannya tidak didasari ikhlas sebelumnya sudah didasari ria. Yang mengetahui hanya Allah SWT dan dirinya saja. Apabila seseorang ingin melakukan amal perbuatan baik atau tidak tergantung pada niat. Rasulullah s.aw. bersabda :
ﺳَﻤِﻌْﺖُﻋُﻤَﺮَﭐﺑْﻦَﭐﻟْﺨَﻄﱠﺎﺏﻗَﺎﻝَﻋَﻠَﻰﭐﻟْﻤِﻨْﺒَﺮﺳَﻤِﻌْﺖُﺭَﺳُﻮْﻝَﺹﻉﻳَﻘُﻮْﻝُِِﺇِﻧﱠﻤَﺎﺍْﻻَﻋْﻤَﺎﻝُﺑِﺎﻟﻨﱢﻴﱠﺎﺕِﻭَﺇِﻧﱠﻤَﺎﻟِﻜُﻞﱢﺍﻣْﺮِﺉٍﻣَﺎﻧَﻮَﻯ
متفق عليه )
Artinya : “aku mendengar Umar bin al Khaththab berkata di atas mimbar, ‘aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang memperoleh sesuai apa yang ia niatkan …” (H.R. Bukhari Muslim)

b. Riya dalam perbuatan
Yaitu memamerkan atau menunjukkan perbuatan di depan orang banyak, agar perbuatan tersebut dipuji, diperhatikan, dan disanjung orang lain.
Di antara contoh riya dalam perbuatan, bila seorang pelajar terlihat belajar dengan sungguh-sungguh hanya karena ingin mendapat nilai yang bagus. Dan dia melakukan hal itu kepada orang tuanya hanya karena ingin mendapatkan apa yang dia minta dari orang tuanya cepat-cepat terkabul.
Beberapa penjelasan Allah SWT dalam Al Qur’an sehubungan dengan riya’ dalam perbuatan antara lain :
a) Melakukan ibadah shalat tidak untuk mencapai keridlaan Allah SWT, tetapi mengaharapkan pujian, popularitas di masyarakat. (Q.S. Al Ma’un (107) : 4-6), dan Q.S. An Nisa (4) : 142.
clip_image013
Artinya : “Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya”. (Q.S. Al Ma’un: 4-6)
b) Bersedekah didasari riya laksana riya’ batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih. (Q.S. Al Baqarah (2) : 264)
c) Allah melarang pergi berperang didasari riya’ dan menghalangi (orang) lain menempuh jalan Allah (sabilillah). (Q.S. Al Anfaal (8) : 47)
Beberapa ciri orang yang mempunyai sifat ria dalam perbuatan
  1. Tidak akan berbuat baik jika tidak dilihat orang lain atau tidak ada imbalan baginya
  2. Melakukan amal saleh tanpa dasar, hanya ikut-ikutan (Q.S. 17 : 36)
  3.  Tampak rajin penuh semangat jika amal perbuatannya dilihat atau dipuji-puji orang.
  4. Ucapannya selalu menunjukkan bahwa dia yang paling hebat, paling tinggi dan paling mampu.
Bahaya-bahaya yang ditimbulkan dari sikap riya
a. Bahaya riya yang merugikan diri sendiri
  • 1) Selalu tidak ada puasnya, sekalipun hidupnya sudah berkecukupan sehingga berpotensi untuk korupsi dan mengambil hak orang lain
  • 2) Selalu ingin dipuji dan dihormati
  • 3) Ketidakpuasan, sakit hati, dan penyesalan ketika orang lain tidak menghargainya.
  • 4) Sombong dan membanggakan diri
  • 5) Tidak dapat bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah maupun berinteraksi dengan sesama manusia.
  • 6) Menyesal jika telah melakukan perbuatan baik hanya karena tidak ada orang lain yang melihatnya atau tidak ada imbalannya
  • 7) Jiwanya akan terganggu karena kegelisahan/keluh kesah yang tiada henti
  • 8) Perbuatan ria termasuk syirik kecil
وَعَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم
( إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ اَلشِّرْكُ اَلْأَصْغَرُ اَلرِّيَاءُ )  أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ بِسَنَدٍ حَسَنٍ
Artinya : Dari Mahmud Ibnu Labid r.a. bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpamu ialah syirik kecil: yaitu riya.” Riwayat Ahmad dengan sanad hasan.
  • 9) Allah tidak akan menerima dan memberi pahala atas perbuatan ria (terhapusnya pahala yang sudah diperbuat)
  • 10) Di akhirat akan dicampakkan ke dalam api neraka.
b. Bahaya riya yang merugikan orang lain
  • 1) Berpotensi saling bermusuhan, karena ia mengungkit apa yang yang diberikannya kepada orang lain.
  • 2) Memamerkan amalnya kepada orang lain, sehingga orang lain menjadi benci dan tidak senang terhadapnya
  • 3) Sikap dan perilakunya yang ria akan berpotensi menimbulkan pertikaian dan akhirnya menimbulkan pengrusakan
Tanda-tanda riya’
Tanda-tanda penyakit hati ini pernah dinyatakan oleh Ali bin Abi Thalib. Kata beliau, ”Orang yang riya itu memiliki tiga ciri, yaitu malas beramal ketika sendirian dangiat beramal ketika berada di tengah-tengah orang ramaimenambah amaliyahnya ketika dirinya dipuji, dan mengurangi amaliyahnya ketika dirinya dicela.”
Kebiasaan yang dapat menghindari perbuatan riya
  • a. Memfokuskan niat ibadah (ikhlas) hanya semata-mata karena Allah SWT
  • b. Membiasakan diri membaca basmallah sebelum memulai pekerjaan
  • c. Membiasakan menjaga lisan saat bekerja
  • d. Membiasakan diri menolong atau membantu pekerjaan orang lain tanpa harus disuruh dan meminta imbalan
  • e. Membiasakan bersedekah atau mengeluarkan infaknya setiap mendapat rezeki atau kesenangan
  • f. Tidak mudah tergiur atau terpengaruh dengan kemewahan orang lain
  • g. Tidak membuat kecemburuan kepada orang lain

Memilih Guru dan Ulama Panutan

Oleh: Ust. Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf
Assalamualaikum wr.wb.
Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan berbagai nikmat-Nya kepada kita.
ulama mengajar
Dalam sebuah hadits Nabi SAW yang dikutip oleh Al-Imam Al-Ghozali Ra dalam kitab beliau Ihya Ulumuddin. Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: "Janganlah kamu duduk (belajar) kepada setiap orang alim, kecuali orang alim yang mengajak kalian dari lima hal menuju lima hal yang lain: Pertama, dari keragu-raguan menuju keyakinan. Kedua, dari kesombongan menuju ketawadhu'an. Ketiga, dari permusuhan menuju perdamaian. Keempat, dari riya menuju ikhlas, dan kelima, dari ketamakan menuju zuhud (HR Ibnu 'Asyakir dari Jabir RA) 

Ilmu itu ibarat pedang. Jika pedang itu dibawa oleh Sayyidina Umar Ra, maka pedang akan sangat bermanfaat dalam melindungi muslimin serta menegakkan agama Allah. Namun jika pedang ini dibawa oleh Abu jahal, maka pedang justru akan sangat berbahaya bagi kaum muslimin. Begitu juga ilmu. Jika ilmu didapat dari orang yang baik, maka ilmu akan bermanfaat. Namun apabila ilmu yang sama didapat dari orang-orang yang tak bertanggung-jawab, maka ilmu justru akan berbahaya bagi orang-orang di sekitarnya. 

Ilmu ibarat air yang turun dari langit. Apabila air diserap oleh pepohonan yang rindang atau buah-buahan yang lezat, maka air itu akan memberikan manfaat yang bisa dinikmati hasilnya. Tetapi apabila air yang turun justru diserap oleh tumbuh-tumbuhan yang berbahaya seperti ganja, opium dsb maka air ini justru akan merugikan kesehatan dan berdampak negatif bagi masyarakat. Begitu pula ilmu. Rasulullah SAW telah mengajarkan berbagai ilmu yang bermanfaat namun ilmu tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh orang-orang yang baik. Terkadang "ilmu yang mulia itu justru diterima oleh orang-orang yang tidak baik. Akibatnya tak jarang ilmu ini justru disalah gunakan untuk kepentingan dunia belaka. Oleh karena itu kita harus barhati-hati dalam mencari ilmu. Selain harus memilih-milih ilmu yang akan kita pelajari, hal yang tak kalah penting adalah selektif kepada orang yang akan kita jadikan panutan dalam mendapatkan ilmu. 

Rasulullah SAW menerangkan kepada kita kriteria ulama yang layak dan aman untuk kita jadikan sebagai panutan dan kita nobatkan sebagai guru religius dalam menuntun kehidupan kita. 

Pertama
Adalah ulama yang menuntun kita dari keragu-raguan menuju keyakinan.
Dalam berguru hendaknya kita harus senantiasa mengacu pada orang-orang yang mampu membuat kita semakin mantap dan yakin dengan aqidah kita, yaitu Islam ala ahlussunah wal jama'ah/ Jangan sekali-kali berguru pada ulama yang justru membuat keragu-raguan pada keyakinan kita. Sikap serampangan dan asal-asalan dalam memilih guru akan menimbulkan sikap fanatisme berlebihan yang akan membuat kita tidak obyektif dalam menilai sebuah kebenaran. Pada akhirnya kita akan ikut apa pun yang diutarakan oleh sang guru meski ternyata bertentangan dengan keyakinan yang telah kita akui kebenarannya. Oleh karena itu pilihlah ulama yang mampu membawa keyakinan kita menjadi semakin kuat. 

Kedua
Adalah ulama yang menuntun kita dari dari kesombongan menuju ketawadhu'an.
Inilah kriteria kedua yang diberikan oleh Rasulullah SAW dalam memilih ulama. Para Ulama menerangkan bahwa sifat kibr (kesombongan) yang paling rendah adalah ketika merasa diri kita lebih baik dari orang lain. Kesombongan memang merupakan sikap yang sangat tercela. Bahkan seseorang yang masih menyisakan kesombongan di hatinya walau hanya satu bjji sawi saja, maka ia haram untuk memasuki surga Allah SWT. Disabdakan oleh Rasulullah SAW: 

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya masih menyimpan kesombongan walau pun hanya sebiji sawi." (HR. Abu Ya'la) 

Karena sifat ini jugalah maka 'azazil (asal-usul iblis) yang sudah beribadah ribuan tahun diusir oleh Allah SWT dari surga. Ketika diperintahkan untuk menghormat kepada Nabi Adam, ia enggan untuk melakukan perintah itu. Ia beranggapan bahwa dirinya lebih mulia karena ia diciptakan dari api yang bersinar terang, sedangkan Adam hanyalah makhluk yang tercipta dari tanah yang kotor dan diinjak-injak oleh siapa saja. Sebagai akibat dari penolakan ini iblis diusir dari surga dan menjadi makhluk terkutuk untuk selamanya. Jika Iblis yang sudah beribadah ribuan tahun saja terkutuk seketika akibat kesombongannya, lantas bagaimana dengan kita yang ibadahnya masih sangat sedikit? 

Dikatakan dalam sebuah syair: 

Tawadu' lah, niscaya engkau akan seperti bintang yang mau merendah di atas air, padahal dia sangat tinggi
Dan janganlah seperti asap yang selalu mengangkat dirinya tinggi di langit, padahal dia sama sekali tidak berharga
 
Orang tawadhu' ibarat bintang yang terlihat di dasar jernihnya air di tengah malam, meski dia berada tinggi di angkasa. Sedangkan orang yang sombong adalah ibarat asap yang selalu mengangkat dirinya padahal dirinya sama sekali tidak berharga.
Oleh karena itu marilah kita berhati- hati dalam menjaga sikap ini dan mencari guru yang bisa mengantarkan kita menuju ketawadhu'an. 

Ketiga
Adalah ulama yang menuntun kita dari permusuhan menuju perdamaian (kepedulian).
Rasulullah SAW bergelar Al-Mu'allim (sang guru). Beliaulah guru bagi setiap insan. Namun gelar itu tidak serta- merta membuat beliau acuh dan berlaku seenaknya. Beliau mempunyai kepedulian yang sangat tinggi kepada para umatnya. Hal ini bisa kita buktikan saat para sahabat kelaparan. Beliaulah yang menyiapkan makanan untuk mereka dan beliaulah yang terakhir menikmati sajian itu. Bahkan ketika beliau merasakan pedihnya sakaratul maut, beliau dengan segera meminta kepada Malaikat Izrail untuk menimpakan kepada beliau separuh rasa sakit sakaratul maut yang dirasakan umatnya.
Begitulah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sikap panutan sejati. Oleh Karena itu hendaknya kita selalu bersikap seperti beliau dan selalu berguru kepada orang alim yang memiliki kepedulian kepada kaum muslimin. Orang alim yang mengajarkan kita sikap tanggap dan kritis terhadap keadaan, bukan ulama yang suka mengadu domba atau menjelek-jelekkan orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka. 

Keempat 
Adalah ulama yang menuntun kita dari riya menuju ikhlas.
Ada dua syarat penting yang harus kita penuhi agar ibadah kita diterima Allah SWT. Syarat pertama adalah yang berhubungan dengan hukum-hukum dzohir seperti bagaimana syarat dan cara mengerjakan ibadah dengan baik dan benar sesuai cara yang diajarkan Nabi SAW. Syarat kedua adalah keikhlasan mengerjakan semua amalan itu semata- mata karena Allah SWT. 

Ibadah yang kita lakukan adalah ibarat surat yang akan kita kirim kepada saudara kita. Agar pesan yang kita sampaikan bisa diterima dengan sempurna, maka kita harus benar-benar memperhatikan isi yang termuat di dalam surat itu. Tidak cukup itu saja. Setelah semua pesan kita catat dengan benar, maka kita juga harus teliti dalam menuliskan alamatnya. Meski isinya benar akan tetapi alamatnya salah, maka surat itu akan sia-sia. 

Begitu pula ibadah yang kita lakukan. Walau seluruh bacaan dan cara-cara mengagungkan Nama Allah SWT sudah benar, namun jika semua itu kita kerjakan bukan untuk menggapai ridha Allah SWT melainkan untuk mendapat pujian, maka ibadah kita tidak akan diterima oleh Allah SWT. Oleh karena itu marilah kita pelajari betul-betul sikap ikhlas ini agar ibadah yang kita kerjakan diterima Allah SWT. Carilah ulama yang mengajarkan kita makna keikhlasan, bukan ulama yang suka berpura-pura demi kepentingan dunia belaka. 

Kelima
Adalah ulama yang menuntun kita dari ketamakan menuju sifat zuhud.
Rasulullah adalah makhluk pilihan Allah yang semua permintaannya pasti dikabulkan, tak terkecuali dalam masalah kekayaan. Jikalau Rasulullah SAW mau, maka beliau akan menjadi orang terkaya dalam sejarah dunia. Suatu hari Malaikat Jibril menawarkan kepada beliau untuk menjadikan semua barang yang beliau pilih menjadi emas, termasuk gunung sekali pun. Akan tetapi beliau menolak karena bukan itu yang beliau minta. Nabi paham bahwa semua itu sangat rendah harganya dan hanya bersifat sementara. Oleh karena itu beliau hanya meminta agar dapat merasakan lapar dalam sehari dan kenyang di hari berikutnya. 

Demikianlah sikap hidup yang di­contohkan oleh Rasulullah SAW kepada segenap umatnya. Beliau siap hidup miskin padahal beliau mampu untuk menjadi orang terkaya. Bagaimana dengan kita? 

Demikianlah Rasulullah SAW mem­berikan pentunjuk kepada kita tentang kiat memilih ulama. Jangan sampai kita salah dalam mengambil ilmu yang mulia ini. Walau semua bersumber kepada Ra­sulullah SAW akan tetapi jika kita salah mengambilnya, boleh jadi ilmu ini akan terkontaminasi oleh berbagai kotoran.
 
Inilah salah satu tujuan diadakannya haul. Dalam acara ini kita disuguhi nasihat- nasihat dan teladan para salafimassholih. Merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Merekalah yang telah berhasil menjalani ujian di atas dunia ini. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa mengikuti langkah mereka agar kita menjadi manusia-manusia yang beruntung seperti mereka.
"Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (Al-An'am: 90)
 
Sumber: Majalah Cahaya Nabawiy

Penyakit-Penyakit Hati

Peran HatiSabda Nabi Muhammad SAW :
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“….Perhatikanlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada sekerat daging, jika sekerat daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh itu. Dan jika sekerat daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah ! yang sekerat itu adalah hati.” (H.R Imam Bukhori & Muslim)
Hati adalah tuan dan rajanya seluruh anggota dan merupakan sumbernya keimanan serta akhlak dan niat yang tercela ataupun terpuji. Dan tidak akan bahagia kehidupan seseorang di dunia dan di akhirat kecuali dengan membersihkan dan mensucikan hati itu dari kejahatan-kejahatannya dankehinaannya, serta menghiasinya dengan kebaikan –kebaikan dan keutamaan-keutamaan.
Akhlak yang tercela dan sifat yang terkutuk di dalam hati itu banyak sekali, demikian juga akhlak yang terpuji serta sifat yang baik-baik yang sebaiknya bagi setiap orang mu’min agar menghiasi hatinya dengan hal-hal tersebut.
Ketahuilah bahwa sifat-sifat yang tercela di dalam hati itu merupakan penyakit baginya dan kadang-kadang menyebabkan kebinasaan di dunia dan di akhirat. Maka setiap mu’min tetap perlu mengobati hatinya dan tidak boleh tidak baginya harus berusaha untuk menyehatkan hatinya, sebab tidak akan selamat di akhirat kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.
Untuk menyelamatkan hati dari penyakit-penyakit yang membinasakan itu, orang mu’min wajib membersihkan hati itu dari ragu-ragu terhadap Allah dan Rasul-Nya dan Akhirat, karena syak (ragu-ragu) itu adalah penyakit hati yang paling berbahaya terutama ketika menghadapi kematian yang kadang-kadang menyebabkan su’ul khotimah.
Penyakit ragu ini kadang-kadang merupakan musibah bagi sebagian orang. Maka tidak boleh bagi orang yang yang terdapat di dalam hatinya keragu-raguan tersebut yang menyebabkan menghadap Allah dalam keadaan ragu-ragu.
Maka wajib bagi orang mu’min untuk bersungguh-sungguh menghilangkan keragu-raguan terhadap Allah dan Rasulnya serta akhirat dari lubuk hatinya dengan sekuat tenaga.
Sesuatu yang paling manfaat untuk menghilangkan keragu-raguan itu ialah “Bertanya kepada Ulama yang ‘arif billah, yang benar-benar ahli dalam agama Allah serta zuhud terhadap dunia .”
Jika tidak mendapatkan ulama yang demikian, maka hendaklah mempelajari kitab-kitabnya yang dikarang oleh beliau-beliau itu dalam hal ilmu Tauhid dan keimanan yang benar.

 
Termasuk penyakit hati yang berat adalah Sombong, itu adalah sifat syetan : Allah SWT berfirman :
(وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ) ,[Surat Al-Baqarah : 34
(لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ) [Surat An-Nahl : 23],Allah SWT berfirman yang artinya "Orang yang sombong itu dibenci oleh Allah SWT"
Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berlagak dan bermegah-megah, karena berlagak dan bermegah-megah itu termasuk sifat orang yang sombong. Orang yang sombong dicap hatinya oleh Allah untuk tidak dapat ta’at kepada-Nya.
Sebagaimana firman Allah SWT (الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۖ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ) [Surat Ghafir : 35]  yang artinya :  “Demikianlah Allah mengecap hati setiap orang yang sombong serta dzolim”
Orang yang sombong itu dipalingkan hatinya dari ayat-ayat Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala berfirman :
(سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ) [Surat Al-Araf : 146]) “Kami akan memalingkan hati orang-orang yang sombong di bumi ini dari ayat-ayat kami dan tidak mau menerima kebenaran 

Firman Allah dalam hadits Qudsi : “Kebesaran adalah selendangKU, dan keagungan adalah kainKU, maka barang siapa yang merebut dari padaKU salah satu dari keduanya, pasti AKU lemparkan ia ke dalam neraka.”
Sabda Rasulullah SAW : “Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan di padang mahsyar pada hari kiamat sekecil debu dalam bentuk manusia tertimpa kehinaan dari segala arah.”
Dan bersabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa mengagungkan dirinya dan bertingkah dalam jalannya, ia akan menemui Allah dan Allah murka kepadanya.”
Bersabda Rasulullah SAW (mengenai Qorun) “ketika dia bergaya dengan pakaiannya karena membanggakan diri, tiba-tiba Allah membenamkan dia ke dalam bumi, maka dia meronta-rnta di dalamnya sampai hari kiamat.”
Tersebut dalam hadits pula : “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji yang kecil dari kesombongan. Bertanya seorang sahabat: “Wahai Rasulullah orang-orang senang jika pakaiannya bagus, sandalnya bagus (Apakah ia termasuk orang yang sombong?) Jawab Rasulullah SAW : “Sesungguhnya Allah SWT indah dan senang kepada keindahan.”
Sombong itu adalah menolak kebenaran dan menghinakan orang lain, maka barangsiapa yang mengagungkan dirinya dan bermegah-megah serta meremehkan/menganggap kecil orang lain, maka ia adalah orang yang sombong yang dikutuk oleh Allah SWT
Sesungguhnya sombong itu adanya di dalam hati, tetap ada ciri-cirinya yang terlihat yaitu :
• Senang menonjolkan diri diantara orang lain dan menampakkan ketinggiannya atas mereka yang senang tampil di dalam pergaulan dari cara berjalannya,
• tidak mau dibantah pembicaraannya walaupun salah dan tidak dapat diterima, dan meremehkan orang-orang Islam yang lemah dan miskin.
• Merasa dirinya suci dan memuji dirinya dan membanggakan nenek moyangnya dari ulama-ulama dan orang yang utama dan bermegah-megah dengan keturunan. 
“Barangsiapa yang membanggakan diri kepada orang lain dengan keturunannya dan nenek moyangnya, maka hilanglah keberkahan nenek moyangnya bagi dia. Karena nenek moyangnya itu bukanlah orang-orang yang suka bermegah-megah dan menyombongkan diri kepada orang lain. Kalo mereka berbuat demikian niscaya tidak ada keutamaannya.
Bersabda Rasulullah SAW : “Barangsiapa yang lambat amalnya tidak akan dipercepat oleh nasabnya.”
Dan Sabdanya pula : “Wahai Fatimah binti Rasulullah, aku tidak berguna bagi di sisi Allah sediktpun, selamatkanlah diri kalian dari api neraka…” ….terusannya, ” Tidak lebih unggul orang yang berkulit merah dari pada orang yang berkulit hitam, dan juga tidak lebih unggul orang arab, kecuali dengan taqwanya terhadap Allah. Kalian berasal dari Nabi Adam dan Nabi Adam adalah dari tanah.”
Dan bersabda Rasulullah SAW : “Niscaya orang-orang akan berhenti dari membanggakan keturunannya ataukah akan lebih hina di sisi Allah daripada kecoa”
Keutamaan dan kemulyaan adalah dengan taqwa bukan dengan keturunan sebagaimana firman Allah SWT :    
(يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ) : (Q.S Al-Hujurat 49:13),yang artinya : “ Sesungguhnya yang paling diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling taqwa diantara kalian”
 
Walaupun orang Itu termasuk yang paling taqwa, dan paling berilmu, dan paling beribadah kemudian ia sombong terhadap orang lain dan membanggakan diri, niscaya ALLAH menggugurkan taqwanya dan membatalkan ibadahnya, apalagi sebaliknya merupakan kebodohan yang sangat besar dan kedunguan yang sangat parah.
Kebaikan itu seluruhnya ada pada sifat Tawadlu, khusyu dan merendahkan diri kepada Allah SWT. Sabda Rasulullah SAW : “Barangsiapa yang tawadlu, pasti diangkat derajatnya oleh Allah SWT dan barangsiapa yang sombong akan dihinakan oleh Allah SWT”

(Sumber : Kitab Nashoihud Diniyyah) 

Terapi Hati: Penyakit Hati Hasad, Iri, Dengki

Dengki (hasud): senang melihat orang lain susah, susah melihat orang lain senang.
Salah satu penyakit hati yang sering merasuki jiwa manusia dengan tidak mengenal golongan, pangkat, jabatan, keturunan dan usia baik laki-laki maupun  perempuan adalah Dengki (Hasud).
Hasud ( dengki ) adalah sikap batin tidak senang terhadap kenikmatan yang diperoleh orang lain dan berusaha untuk menghilangkannya dari orang tersebut. Imam Ghazali mengatakan bahwa hasud itu adalah cabang dari syukh ( الشخ) yaitu sikap batin yang bakhil berbuat baik.
Kata hasud berasal dari bahasa Arab, yaitu “hasadun” yang berarti dengki, benci. Dengki merupakan suatu sikap atau perbuatan yang mencerminkan rasa marah, tidak suka karena iri. Dalam kamus Bahasa Indonesia kata “hasud” diartikan membangkitkan hati seseorang supaya marah (melawan, memberontak, dan sebagainya).
Dengan demikian yang dimaksud dengan hasud pada hakikatnya sama dengan hasad, yakni suatu perbuatan tercela sebagai akibat adanya rasa iri hati dalam hati seseorang. Rasululloh s.a.w. bersabda :
ﺩَﺏﱠﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْﺩَﺍۤﺀُﭐْﻷُﻣَﻢِﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْﺑَﻐْﻀَﺎﺀُﻭَﺣَﺴَﺪٌﻫِﻲَﺣَﺎﻟِﻘَﺔُﭐﻟﺪﱢﻳْﻦِﻻَﺣَﺎﻟِﻘَﺔُﭐﻟﺸﱠﻌْﺮِ
ﺭَﻭَﺍﻩُﺃَﺣْﻤَﺪُﻭَﭐﻟﺘﱢﺮْﻣِﺬِﻱﱡ )
Artinya : “Telah masuk ke dalam tubuhmu penyakit-penyakit umat terdahulu (yaitu) benci dan dengki, itulah yang membinasakan agama, bukan dengki mencukur rambut”. (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)
Lebih jauh para ulama mengemukakan pengertian hasud atau hasad sebagai berikut :
  1. Menurut Al Jurjani Al Hanafi dalam kitabnya “Al Ta’rifaat”, hasad ialah menginginkan atau mengharapkan hilangnya nikmat dari orang yang didengki (mahsud) supaya berpindah kepadanya (orang yang mendengki).
  2.  Menurut Imam Al Ghazali dalam kitab “Ihya Ulumuddin”, hasad ialah membenci nikmat Allah S.W.T. yang ada pada diri orang lain, serta menyukai hilangnya nikmat tersebut.
  3. Menurut Sayyid Qutub dalam tafsir “Al Manar”, hasad ialah kerja emosional yang berhubungan dengan keinginan agar nimat yang diberikan Allah S.W.T. kepada seseorang dari hamba-Nya hilang dari padanya. Baik cara yang dipergunakan oleh orang yang dengki itu dengan tindakan supaya nikmat itu lenyap dari padanya atas dasar iri hati, ataau cukup dengan keinginan saja. Yang jelas motif dari tindakan itu adalah kejahatan.
Hal inilah, seperti yang dijelaskan Al Qur’an sebagai berikut :
ﺃَﻡْﻳَﺤْﺴُﺪُﻭْﻥَﭐﻟﻨﱠﺎﺱَﻋَﻠَﻰﻣَﺎۤﺍٰﺗٰﻬُﻢُﭐﷲُﻣِﻦْﻓَﻀْﻠِﻪِ
Artinya : “ Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya …. (Q.S. An Nisa : 54)
Jadi hasud/hasad menurut istilah: membenci nikmat Allah SWT yang dianugerahkan kepada orang lain, dengan keinginan agar nikmat yang didapat orang tersebut segera hilang atau terhapus.
Rasulullah saw menggambarkan betapa tercelanya kedengkian itu dengan sabdanya:
ﺇِﻳﱠﺎﻛُﻢْﻭَﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻓَﺈِﻥﱠﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻳَﺄْﻛُﻞُﭐْﻟﺤَﺴَﻨَﺎﺕِﻛَﻤَﺎﺗَﺄْﻛُﻞُﭐﻟﻨﱠﺎﺭُﭐﻟْﺤَﻄَﺐَ  ﺭَﻭَﺍﻩُﺃَﺑُﻮْﺩَﺍﻭُﺩَﻋَﻦْﺃَﺑِﻲْﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَﺭﺽ
”Kedengkian memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar” (HR.Abu Daud dari Abu Hurairah).
Ketika seseorang mengharapkan lenyapnya nikmat dari orang yang didengki maka saat itu ia telah berlaku hasad, karena sesungguhnya kedengkian adalah membenci nikmat dan menginginkan lenyapnya nikmat itu dari orang yang mendapatkannya.
Pantaslah jika Rasulullah saw pernah menyebut seseorang sebagai penghuni surga akan lewat di depan sahabat-sahabatnya, yang ketika kejadian itu berulang tiga kali dalam tiga hari Rasulullah menyebutnya sebagai seorang dari penghuni surga, dan ketika ditelusuri oleh Abdullah bin Amer bin al-Ash dengan bermalam di rumah orang tersebut selama tiga malam, ia tidak pernah melihat amalan orang tersebut yang berlebihan, bahkan orang itu juga tidak bangun malam, kecuali jika berbalik dari tempat tidurnya ia menyebut Allah, ia tidak bangun kecuali untuk shalat subuh, dan tidak pernah mendengarnya berkata kecuali kebaikan.
Bahkan hampir saja Abdullah meremehkan amalannya. Ketika Abdullah mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah telah bersabda begini dan begitu, kemudian ia bertanya : ”Apakah gerangan yang membuatmu mencapai tingkatan tersebut?”
Orang tersebut menjawab: ”Tidak ada apa-apa kecuali yang kamu lihat, hanya saja aku tidak punya rasa benci dan dengki kepada salah seorang pun dari kaum muslimin yang dikaruniai Allah kebaikan”.
Di sinilah Abdullah menemukan jawaban itu, ia berkata :”Itulah rupanya yang membuatmu mencapai tingkatan itu, dan itulah yang tidak mampu kami lakukan”.
Demikianlah nikmatnya jika kita dapat menghidarkan diri dari berlaku hasad pada orang lain yakni surga, yang sesungguhnya terlihat sangatlah sepele persoalannya meskipun sesungguhnya berat dalam pengamalannya.
Cukuplah menjadi renungan kita bersama bahwasanya penyebab pembunuhan pertama kali di muka bumi ini terjadi yaitu anak Adam membunuh saudaranya adalah disebabkan oleh kedengkiannya pada saudaranya atas nikmat yang dimilikinya lalu kita bertanya masihkah kita harus mendengki?
Rasulullah bersabda:
ولا تحاسدوا ولاتقاطعوا ولاتباغضوا ولاتدابروا وكونوا عبادالله إخوانا كما أمركم الله ( رواه ﭐﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡ ومسلم )
Artinya : “Janganlah kamu sekalian saling mendengki, membenci, dan saling belakang-membelakangi; tetapi jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan Allah kepadamu”. ( H.R Bukhari dan Muslim )
Setiap muslim/muslimah wajib hukumnya menjauhi sifat hasud karena hasud termasuk sifat tercela dan merupakan perbuatan dosa. Simaklah QS. An Nisa’ [4]: 32
clip_image007
Artinya : ““Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Dalam kitab Tanbihul Ghafilin yang dinyatakan Imam Abu Laits Samarqandi, dijelaskan bahwa orang hasud itu telah menentang Allah SWT dalam beberapa hal, :
  1.  Membenci nikmat atau anugerah Allah SWT yang diberikan kepada orang lain.
  2. Tidak rela menerima pembagian karunia Allah SWT atas dirinya.
  3. Pelit terhadap pemberian Allah SWT, kalau bisa semua anugerah Allah dan kebajikan jatuh pada dirinya sendiri, tak perlu orang lain. Kalaupun orang lain memperolehnya diharapkan di bawah derajat dirinya.
  4. Mengikuti pengaruh Ibnlis/syetan yang sebetulnya sangat merugikan dan menghinakan dirinya sendiri
 Bahaya-bahaya sifat hasud antara lain:
  • Merusak iman orang yang hasud.
الحسد ﻳُﻔْﺴِﺪُ الايمان كما يفسد الصبر العسل ( رواه ﭐﻟﺪﱠﻳْﻠَﻤِﻲﱡ )
Artinya : “Hasud itu dapat merusak iman sebagaimana jadam merusak madu (H.R Ad Dailami)
  • Menghanguskan segala macam kebaikan yang pernah dilakukan.
ﺇِﻳﱠﺎﻛُﻢْﻭَﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻓَﺈِﻥﱠﭐﻟْﺤَﺴَﺪَﻳَﺄْﻛُﻞُﭐْﻟﺤَﺴَﻨَﺎﺕِﻛَﻤَﺎﺗَﺄْﻛُﻞُﭐﻟﻨﱠﺎﺭُﭐﻟْﺤَﻄَﺐَ
( رواه ابو داود )
Artinya : “Jauhilah darimu dari hasud karena sesungguhnya hasud itu memakan kebaikan-kebaikan seperti api memakan kayu bakar. ( H.R Abu Dawud )
  • Tersiksa batinnya untuk selama-lamanya, sebab di dunia ini tidak sepi dari orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah baik berupa ilmu, pangkat, atau harta benda sementara dia selalu diliputi rasa dengki terus menerus.
Ada 2 macam hasud yang dibolehkn, Rasulullah bersabda
لاحسد إلا فى اثنين: رجل أتاه الله مالا فسلطه على هلكته فى الحق ورجل أتاه الله الحكمة فهو يقضي بها ويعلمها
( رواه ﭐﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡ )
Artinya : “Tidak boleh iri hati kecuali dalam 2 hal : 1. Seorang yang diberi oleh Allah SWT harta kekayaan maka dipergunakan untuk mempertahankan hak ( kebenaran ) dan 2. Seorang yang diberi Allah SWT ilmu hikmah, maka ia pergunakan dan ia ajarkan. ( H.R Bukhari )
  •  Mengarah pada perbuatan maksiat, dengan berlaku hasud otomatis seseorang pasti melakukan hal-hal lain seperti ghibah (mengumpat/menggosip orang), berdusta, mencela, bahkan mengadu domba.
  •  Jauh dari rahmat Allah SWT dan sesama manusia
  •  Menghancurkan persatuan dan kesatuan
  •  Menyakiti orang lain atau dapat mencelakakan orang lain
  • Terkena hinaan dan kegelisahan apalagi ia menyadari bahwa orang lain telah memahami hasutannya, maka ia akan dipandang rendah dan pasti dijauhi.
  •  Kerisauan dan kegelisahan akibat kebencian tak terputus-putus
  •  Akan selalu menderita di atas kesenangan orang lain. Ia tidak pernah merasa bahagia selama ada orang lain yang melebihinya
  • Dapat memutuskan hubungan silaturrahim dan persaudaraan
  • Berpotensi akan menjadi provokator yang dapat menimbulkan bencana atau kerugian, baik untuk dirinya ataupun orang lain
  • Menjerumuskan pelakunya masuk neraka.
Cara menghindari sifat hasud :
  1. Selalu meningkatkan iman kepada Allah SWT
  2. Berupaya meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT
  3. Mensyukuri nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepadanya
  4. Meningkatkan sifat Qana’ah (menerima dengan ridlo setiap anugerah Allah SWT)
  5. Menyadari kedudukan harta dan jabatan dalam kehidupan manusia di dunia.
 Kebiasaan-kebiasaan yang harus dilatih agar terhindar dari sifat hasud

PRAKTEK TERAPI PENYAKIT HATI silakan hubungi 021-8846828

Keutamaan Berdzikir Kepada Allah SWT

Allah Yang Maha Besar selalu mengingatkan kita di dalam kitab-Nya Al-Quran Al-Karim supaya berzikirillah seperti berikut:

“Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang, dan pada sebahagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bahagian yang panjang di malam hari.” 
Surah 76: Al Insan, Ayat 25 & 26

“Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak meninggikan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”    Surah 7: Al A’raf,  Ayat 205

“Orang-orang yang mengingati Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Surah 3: Al Imran Ayat 191

“Sesungguhnya Aku lah Allah, tidak ada Tuhan selainKu, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.”  
Surah 20 Ta Ha Ayat 14

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.”
Surah 33: Al Ahzab Ayat 21

Dari Bukhari, Muslim, Tirmidhi dan Ibn Majah, diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a: Rasulullah s.a.w bersabda:
Allah s.w.t berfirman: Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, nescaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu di majlis, nescaya Aku juga akan mengingatinya di dalam suatu majlis yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan berjalan seperti biasa, nescaya Aku akan datang kepadanya seperti berlari-lari anak.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Sesungguhnya Allah s.w.t Yang Maha Memberkati lagi Maha Tinggi memiliki para Malaikat yang mempunyai kelebihan yang diberikan oleh Allah s.w.t. Para Malaikat selalu mengelilingi bumi. Para Malaikat sentiasa memerhati majlis-majlis zikir. Apabila mereka dapati ada satu majlis yang dipenuhi dengan zikir, mereka turut mengikuti majlis tersebut di mana mereka akan melingkunginya dengan sayap-sayap mereka sehinggalah memenuhi ruangan antara orang yang menghadiri majlis zikir tersebut dan langit. Apabila orang ramai yang hadir dalam majlis tersebut beredar, para malikat naik ke langit.

Allah s.w.t bertanya para  “Dari mana kamu datang?”
Malaikat menjawab: “Kami datang dari tempat hamba-hambaMu di dunia.  Mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid serta berdoa memohon dari-Mu.”
Allah s.w.t berfirman: “Apakah yang mereka pohonkan.?”
Para Malaikat menjawab: “Mereka memohon Syurga dari-Mu.”
Allah berfirman: “Apakah mereka pernah melihat Syurga-Ku?”
Para Malaikat menjawab: “Belum, wahai Tuhan.”
Allah berfirman: “Bagaimanakah agarnya akan terjadi seandainya mereka dapat melihat Syurga-Ku?”
Malaikat berkata lagi: “Mereka juga memohon daripada-Mu perlindungan.”
Allah berfirman: “Mereka pohon perlindungan-Ku dari apa?”
Malaikat menjawab: “Dari Neraka-Mu, wahai tuhan.”
Allah berfirman: “Apakah mereka pernah melihat Neraka-Ku?”
Malaikat menjawab: “Belum.”
Allah berfirman: “Bagaimanakah agarnya akan terjadi seandainya mereka dapat melihat Neraka-Ku.”
Malaikat terus berkata: “Mereka juga memohon keampunan-Mu.”
Allah berfirman: “Aku sudah mengampuni mereka. Aku telah kurniakan kepada mereka apa yang mereka pohon dan Aku telah berikan ganjaran pahala kepada mereka sebagaimana yang mereka pohonkan.”
Malaikat berkata lagi: “Wahai tuhan kami, di antara mereka terdapat seorang hamba-Mu. Dia penuh dengan dosa, sebenarnya dia tidak berniat untuk menghadiri majlis tersebut, tetapi setelah dia melaluinya dia terasa ingin menyertainya lalu duduk bersama-sama orang ramai yang berada di majlis itu.”
Allah berfirman: “Aku juga telah mengampuninya. Mereka adalah kaum yang tidak dicelakakan dengan majlis yang mereka adakan.”


(Sumber: www.alhawi.net)

Fenomena Kerancuan Ilmu Hikmah Dan Ilmu Tasawuf

Saya mempunyai teman pengajian setelah mendengar cerita-cerita dari para kiyai di Majlis Ta'limnya soal Waliyullah yang mampu begini dan begitu dengan semangatnya dia mengajak rekan yang lainnya untuk berangkat ke Jawa Tengah untuk masuk tarekat dan berbai'at kepada seorang mursyid. Setelah beberapa tahun masuk, saya mengamatinya tidak lagi mengamalkan wiridan-wiridan yang diberikan sang mursyid, bahkan dia sering kumpul-kumpul dengan jama'ah pengajian lainnya dengan mempelajari ilmu kekebalan, pengobatan dan lain-lain. Suatu hari  kami bertemu di rumah kawan dan bercerita banyak tentang kegiatan terakhirnya bersama kawan-kawannya, rupanya dia berpikir bahwa dengan masuk tarekat bisa pula menjadi sakti, terbang, kebal dan sebagainya.smiley

Berdasarkan pengalaman teman saya tersebut perlulah kami uraikan di sini  sumber ilmu, metode, dan pokok – pokok yang membedakan antara Ilmu Hikmah dan ilmu Tasawuf.

APA ITU ILMU HIKMAH DAN ILMU TASAWUF

Ilmu hikmah adalah ilmu yang dipelajari dengan metode zikir dan doa yang tidak bertentangan dengan akidah dan syari'at Islam, ditujukan untuk urusan duniawi seperti pengobatan, kekebalan, pangkat, karir, perjodohan, pengasihan dan lain-lain.

Ilmu tasawuf itu erat kaitannya dengan ilmu tarekat dan ilmu syari'at, keduanya tidak bisa dipisahkan. Mempelajari Tasawuf tanpa syari'at itu jelas tidak dibenarkan. Untuk mempelajari tasawuf, harus mempelajari ilmu syari'at dulu. Syari'at sudah mengatur dan menjadi dasar. Kalau dipelihara dengan baik akan berbuah tarekat. Pakaian di antara tarekat tersebut adalah tasawuf. la mengatur bagaimana menjaga perbuatan, iman, amal dan Islam. Yaitu untuk mengantisipasi datangnya penyakit penyebab rusaknya amal, itulah yang disebut tasawuf. Maka itu inti  dari tasawuf adalah akhlak dan adab atau sopan santun.

BAGAIMANA METODE MEMPELAJARI  ILMU HIKMAH DAN ILMU TASAWUF

Dengan puasa, zikir/wirid, amalan, doa, membaca ayat-ayat Qur'an, dengan mantra, sya'ir-syair yang dibuat para Ulama Hikmah atau yang didapat dari ilham para Ulama Hikmah atau dari ilham Ahli Tasawuf dan lain-lain.IImu hikmah, asal dia mengetahui ilmu tauhid itu sudah cukup. Yaitu mempelajari fatwa ulama khususnya dan Baginda Nabi Muhammad (saw). Ulama yang mengetahui rahasia ayat, doa dan sebagainya sehingga bisa mengobati orang, berani tirakatnya, harus puasa sekian kali dan sebagainya, siapa pun bisa asal siap mentalnya, bisa mempelajari llmu hikmah itu. Untuk memberi pengobatan atau pertolongan itu, dengan jalur ilmu hikmah. Seperti supaya dagangannya laris, dan sebagainya, itu bisa dicapai oleh siapa pun. la mengetahui, membaca ini atau itu, bisa dipakai untuk jimat. Kalau ditaruh di toko, Allah (Swt) akan membukakan rezeki yang lebih banyak, dan orang yang membeli juga banyak, sebab ada doa yang mengandung pengabulan hajat tersebut. Itulah ilmu hikmah, yang terkait dengan rahasia ilmu Al-Qur'an untuk dimanfaatkan manusia.

Bagi murid yang ingin belajar tasawuf maka wajiblah beramal dengan Islam, Maka tidak ada tasawuf kecuali dengan fiqih, karena kau tidak mengetahui hukum-hukum ALLAH Ta'ala yang lahir kecuali dengan fiqih. Dan tidak ada fiqih kecuali dengan tasawuf, karena tidak ada amal dengan kebenaran pengarahan (kecuali dengan tasawuf). Dan juga tidak ada tasawuf dan fiqih kecuali dengan Iman, karena tidaklah sah salah satu dari keduanya (fiqih dan tasawuf) tanpa iman. Maka wajiblah mengumpulkan ketiganya iman, fiqih, dan tasawuf .(Sumber kitab Iyqo-zhul Himam halaman 5).
Imam Malik berkata : Barangsiapa bertasawuf tapi tidak berfiqih maka dia telah kafir zindiq (pura-pura beriman), dan barangsiapa yang berfiqih tapi tidak bertasawuf maka dia telah fasik (berdosa) dan barangsiapa yang mengumpulkan keduanya (fiqh dan tasawuf) maka dia telah benar. (Sumber kitab Iyqo-zhul Himam halaman 6).

Jadi Tasawuf itu harus melalui Iman (akidah), Islam (syari'ah) dan Ihsan (Hakikat). Atau amal Syari'ah, Thoriqoh dan Hakikat. Maka Syari'ah adalah menyembah ALLAH, Thoriqoh adalah menuju ALLAH, dan Hakikat adalah menyaksikan ALLAH. Atau Syari'ah itu untuk memperbaiki lahiriah, Thoriqoh untuk memperbaiki bathiniah (hati), dan Hakikat untuk memperbaiki Sir (Rahasia diri).
Ada orang yang diberi kelebihan oleh Allah (Swt) berupa ahlak dan adab. la memiliki kemampuan weruh sakdurunge winarah, atau waskita, yaitu tahu sebelum kejadian. Bagi orang yang tahu, tidak akan berani berbicara sembarangan. la merasa malu kepada Allah karena mendahuiui kehendak-Nya.

Orang yang mencapai tingkatan tasawuf yang berakhlak dan beradab, akan mempergunakan tasawuf untuk menjaga diri dari perbuatan yang tidak menguntungkan. Seperti bagaimana membersihkan riya', atau bagaimana cara membawa wudlu yang maknannya bukan sekedar untuk menjalankan shalat  tapi di luar shalat. Tapi bisakah wudlu itu, setelah menyucikan secara lahiriah, juga membuat suci batin. Ini hakikat wudlu dalam dunia tasawuf.

Apakah Kekuatan Luar Biasa Yang didapat dari mempelajari Ilmu Hikmah dan Ilmu Tasawuf?

Bisa saja ilmu hikmah terkait dengan karomah. Tapi sebenarnya karomah itu dikhususkan bagi waliyullah atas kedekatan seseorang di sisi Allah dan Rasul-Nya. Karamah bukanlah tujuan para wali. Tapi Allah (Swt) yang menganugerahkannya. Jadi, mau diberi karomah apa pun, kalau Allah (Swt) memberi, sekalipun tidak masuk akal bagi manusia, itu sangat mungkin terjadi. Karena Allah (Swt) tidak pernah terikat oleh akal manusia. Para wali mempergunakan karomahnya bila terdesak. Sekalipun mampu, namun karena malu, mereka tidak sembarangan menggunakan. Apalagi karena itu bukan tujuan. Mereka tidak membangga-banggakan karomahnya. Sewaktu-waktu bila terdesak dan sangat diperlukan, baru itu akan keluar.

Orang yang menjalankan ilmu hikmah diberikan karomah karena karomahnya ayat-ayat Allah (Swt), yaitu yang memiliki kandungan asrar (rahasia) luar biasa. Karena itu Allah (Swt) menurunkan karomah. Tapi hakikatnya bukan karomah si pelaku ilmu hikmah, melainkan karena pribadinya bertawasul kemudian mendapat karomah dari ayat-ayat tersebut. Sedangkan para wali tidak. Karomah yang mereka miliki langsung dari Allah (Swt), yang disebabkan karena penghambaannya kepada Allah. Itu perbedaannya.

Sumber :
  1. Kitab Iyqo-zhul Himam fii Syarhil Hikam cetakan dan terrbitan Al Haromain, Jeddah karangan Al 'Arif Billah Ahmad bin Muhammad bin 'Ajibah Al Husni.
  2. 40 Masalah Agama III, penerbit Pustaka Tarbiyah, karangan KH.Siradjuddin Abbas
  3. Mengenal Tarekat ala Habib Lutfi bin Yahya


Simak di: http://www.sarkub.com/2013/fenomena-kerancuan-ilmu-hikmah-dan-ilmu-tasawuf/#ixzz2oHhWS4rs